Industri kripto di Asia Tenggara tengah mengalami perkembangan yang signifikan. Negara-negara di wilayah ini, seperti Thailand dan Vietnam, sedang giat menciptakan regulasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi digital berbasis blockchain dan aset kripto. Thailand baru saja mengeluarkan kebijakan pembebasan pajak untuk pengguna exchange kripto lokal sebagai langkah untuk mengukuhkan posisinya sebagai pusat kripto di Asia. Di sisi lain, Vietnam telah meresmikan Undang-Undang Industri Teknologi Digital untuk memperkuat kerangka regulasi aset kripto dan menerapkan standar anti-pencucian uang yang ketat.
Berbagai negara seperti Indonesia, Vietnam, dan Thailand, berlomba-lomba dalam adopsi teknologi kripto. Berdasarkan laporan Global Crypto Adoption Index 2024, Vietnam menempati peringkat kelima, Thailand peringkat ke-16, dan Indonesia posisi ketiga dalam indeks adopsi kripto global. Namun, Indonesia harus terus bersinergi untuk memperkuat industri kripto nasional agar tidak tertinggal dari negara tetangga.
Langkah-langkah seperti memberikan insentif fiskal, menyempurnakan regulasi yang ada, meningkatkan literasi digital dan finansial, serta mendukung startup dan pengembang menjadi kunci keberhasilan. CEO Tokocrypto, Calvin Kizana, menegaskan perlunya kolaborasi di antara pemerintah, pelaku industri, dan masyarakat dalam menciptakan regulasi yang progresif untuk mendukung pertumbuhan industri kripto Indonesia. Dengan adanya sinergi yang kuat, industri kripto Indonesia tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga menjadi pemimpin di Asia Tenggara.
Tokocrypto, sebagai pedagang aset kripto terkemuka di Indonesia, telah berperan penting dalam ekosistem kripto nasional sejak 2018. Dengan dukungan dari Binance, Tokocrypto menawarkan layanan investasi kripto yang aman, transparan, dan mudah digunakan. Dengan rata-rata nilai transaksi harian mencapai US$ 25 juta, dan kepercayaan dari lebih dari 4 juta pengguna di Indonesia, Tokocrypto terus menjadi aktor penting dalam perkembangan industri kripto di Tanah Air.





