Presiden Prabowo Subianto memperkenalkan program-program andalannya—Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes)—yang diibaratkan sebagai “jalur cepat” yang dibangun untuk mempercepat pembasmian kemiskinan. Alasannya: inisiatif-inisiatif ini memiliki potensi untuk menciptakan peluang kerja masif sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi.
“Ini bukan hanya tentang mengurangi kemiskinan. Jika tujuannya hanya untuk mengatasi masalah tersebut, bantuan sosial sudah cukup. Namun Presiden menginginkan masyarakat untuk diberdayakan dan mandiri secara ekonomi,” kata Kepala Badan Pendukung Tugas Pemulihan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko dalam konferensi pers pada Kamis (14 Agustus).
Budiman menggunakan analogi sepak bola untuk menjelaskan pendekatan pemerintah: masyarakat miskin adalah pemain, dan Presiden ingin mereka memiliki keterampilan, kecerdasan, gizi yang cukup, dan akses ekonomi yang luas. Peran pemerintah, katanya, adalah memastikan bola bergerak lancar dari pertahanan ke serangan—hingga “mencetak gol” dalam pembasmian kemiskinan.
Menurut Budiman, Sekolah Rakyat yang berbasis asrama bertujuan untuk memutus siklus kemiskinan, sementara MBG dan Kopdes Merah Putih memberikan manfaat ekonomi kepada seluruh komunitas. Dapur-dapur MBG dan outlet ritel Kopdes diperkirakan akan menciptakan jutaan lapangan kerja, dengan sektor hulu—seperti petani, UMKM, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)—juga mengalami peningkatan permintaan.
Wakil Kepala BP Taskin Nanik S. Deyang menambahkan bahwa program-program ini memberikan harapan yang nyata bagi rumah tangga miskin untuk mandiri. Sekolah asrama dengan sengaja mengeluarkan anak-anak dari lingkungan yang membatasi aspirasi, sementara operasi skala besar MBG menghasilkan “efek nilai” bagi produsen lokal.
Ia mencontohkan pabrik tahu dan tempe kecil: “Sebelum memasok ke dapur-dapur MBG, mereka mungkin hanya mempekerjakan satu pekerja. Sekarang, mereka bisa mempekerjakan lima atau enam pegawai. Hal yang sama berlaku untuk pedagang sayur atau unggas.”
Jauh dari MBG, Nanik menyoroti peran Kopdes Merah Putih dalam memotong perantara mahal dari rantai pasokan. Dengan Kopdes, harga tabung gas 3 kilogram dapat sesuai dengan tarif yang ditetapkan pemerintah, dan petani bisa mengakses pupuk dengan harga jauh lebih rendah—tanpa melalui lapisan agen, depot, dan koperasi.
“Kopdes juga membantu masyarakat mengakses kredit yang terjangkau, membebaskan mereka dari pemberi pinjaman harian yang bersifat menipu. Koperasi memberikan modal dengan syarat yang lebih ringan daripada bank,” katanya.

