BSSN Ingatkan Pentingnya Kolaborasi Internasional Siber

by -67 Views

Pada kesempatan konferensi mahasiswa pascasarjana Hubungan Internasional yang digelar Universitas Indonesia, Dr. Sulistyo dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menyampaikan pemikiran penting mengenai pentingnya ruang siber di era globalisasi saat ini. Ia menyampaikan bahwa ruang siber memiliki karakter khas yang berbeda dari domain tradisional karena bersifat tanpa batas teritorial, sehingga tidak berada di bawah otoritas satu negara tertentu ataupun tunduk pada satu sistem hukum saja. Realitas ini memisahkannya secara mendasar dari wilayah darat, laut, dan udara yang selalu terkait dengan kedaulatan negara.

Pandangan tersebut mempertegas bahwa karakteristik ruang siber sebagai wilayah tak berbatas memiliki implikasi langsung terhadap kepentingan nasional dan stabilitas di tingkat global. Ruang digital bukan hanya sekadar urusan infrastruktur teknologi, melainkan sudah menjadi arena kontestasi dengan dampak besar pada keamanan dan hubungan antarnegara.

“Wilayah siber membuat batas negara menjadi tidak relevan. Segala bentuk serangan, mulai dari sabotase hingga informasi palsu, kini bisa melintasi perbatasan negara secara seketika dan praktis tidak dapat diawasi oleh otoritas tunggal manapun,” ungkap Sulistyo dalam presentasinya.

Ketidakjelasan Batas dan Problem Baru Kedaulatan di Dunia Maya

Di tengah dinamika keamanan global, sifat siber yang lintas batas ini menimbulkan hambatan besar pada negara dalam mempertahankan kedaulatan. Dalam kasus serangan siber ke infrastruktur kritis, data yang dimanipulasi, atau persebaran narasi palsu, pelaku dapat berasal dari lokasi mana saja dan dampaknya dapat meluas secara instan. Atribusi penyerang menjadi rumit, mekanisme hukum sulit diberlakukan, dan koordinasi antarnegara terhambat oleh kecepatan perkembangan serangan.

Negara-negara pun kini dihadapkan pada dilema: bagaimana menegakkan kedaulatan tanpa tanah yang dapat dijaga secara fisik, serta bagaimana mengatur wilayah di mana aktor utama justru bisa berasal dari kalangan non-negara, seperti kelompok kejahatan digital atau operator swasta yang didukung negara tertentu.

Keberadaan siber ini bahkan menimbulkan peluang baru bagi berbagai pihak untuk melakukan serangan lintas negara, tanpa perlu melewati batas-batas tradisional dan tanpa deteksi fisik. Risiko terhadap stabilitas politik, ekonomi, hingga keamanan publik makin tinggi akibat fleksibilitas ruang maya.

Dr. Sulistyo juga menggarisbawahi bahwa strategi pertahanan negara-negara kini berubah, mengikuti pola ancaman siber yang seringkali terjadi tanpa kentara; tidak ada pengiriman pasukan, tidak ada perang konvensional, namun daya rusaknya bisa langsung memukul sektor ekonomi atau menciptakan gejolak domestik dan regional.

Kompetisi global pun memasuki wajah baru, di mana kekuatan besar saling berlomba memajukan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan jaringan informasi generasi terbaru untuk memperoleh keunggulan geopolitik. Tekanan dan rivalitas global mengisi ruang siber sebagai wahana pertarungan kepentingan.

Langkah Indonesia: Kolaborasi Global dan Pembangunan Ketahanan Siber Nasional

Untuk menghadapi tantangan global di dunia siber yang tidak mengenal batas, Indonesia mendorong penguatan kerja sama diplomatik secara aktif dan inklusif. Pemerintah Indonesia menegaskan bahwa pengaturan tata kelola siber harus terbuka bagi semua negara dan tidak boleh dimonopoli blok kekuatan tertentu, apalagi yang bisa meminggirkan kepentingan negara berkembang.

Aktivitas itu dilaksanakan melalui pelibatan aktif di forum internasional, seperti ASEAN, PBB, dan aliansi kerja sama siber lainnya. Fokusnya meliputi: pembentukan aturan perilaku di ruang siber untuk negara, pencegahan insiden dan peningkatan kepercayaan antarnegara, serta peningkatan kapasitas kolektif menghadapi tantangan siber lintas batas.

Sulistyo menekankan bahwa penopang pertahanan di ruang tak terbatas ini adalah membangun sistem nasional yang lincah, tanggap, dan mampu beradaptasi dari waktu ke waktu. Beliau menjelaskan tiga prioritas untuk Indonesia: memperkuat sistem keamanan siber nasional lewat pembaruan teknologi, membangun kemitraan internasional yang erat karena mustahil ada negara yang bisa melindungi ruang sibernya secara sendiri, dan menyiapkan SDM siber yang profesional untuk memenangkan persaingan era digital global.

“Ketahanan siber sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keamanan internasional. Setiap negeri harus sadar bahwa ancaman di satu titik dapat segera menjalar ke seluruh dunia, karena tidak ada lagi sekat nyata di ranah digital,” tutupnya dengan penegasan penting.

Sumber: Ruang Siber Yang Borderless Mengubah Peta Keamanan Internasional, Ini Sikap Indonesia
Sumber: Ruang Siber Yang Borderless Dan Implikasinya Bagi Keamanan Internasional: Perspektif Indonesia