Pengelolaan energi telah menjadi salah satu hal yang sangat penting dalam regulasi F1 2026, dengan perubahan signifikan yang membuatnya memerlukan analisis yang mendalam terutama pada tahap awal. Sejumlah tim saat uji coba di Barcelona melihat pentingnya memahami cara kerja unit tenaga dalam berbagai kondisi operasional setelah mengevaluasi keandalannya. Topik ini tidak hanya berdampak pada aspek teknis motor, tetapi juga pada prosedur start yang penting. Perbedaan signifikan terlihat dari uji coba pertama di Silverstone, di mana prosedur start yang berbeda terlihat dari sebelumnya, dengan penekanan pada bagaimana mencapai start yang efisien, terutama dalam hal pengelolaan turbo yang lebih kompleks.
Perbedaan tersebut terlihat juga dalam uji coba di Spanyol pada akhir Januari, di mana sulitnya mencapai tekanan turbo yang tepat menjadi konsekuensi langsung dari transisi ke mesin 2026. Konsep pengelolaan turbo yang baru menyulitkan untuk membawa turbo ke jendela operasi yang sesuai, terutama selama fase start. Pemakaian kurangnya MGU-H dan ketergantungan pada MGU-K untuk mengelola energi merupakan tantangan besar karena mobil harus mencapai target rotasinya tanpa dukungan eksternal dalam waktu yang lebih lama.
Selain itu, penggunaan energi dan pengelolaan baterai juga menjadi poin penting dalam strategi start dan pengoperasian turbo. Dengan peningkatan tenaga MGU-K menjadi hampir tiga kali lipat sampai 350 kW, pemahaman akan bagaimana dan kapan menggunakan energi sangat krusial. Di lintasan lurus atau dalam kondisi trek yang cepat, strategi penggunaan baterai harus diperhatikan dengan cermat karena kemungkinan kehabisan energi bisa berdampak pada performa mobil secara keseluruhan. Strategi penggunaan baterai harus dipersiapkan dengan matang, terutama di sirkuit-sirkuit yang memiliki sedikit kesempatan untuk mengisi ulang energi. Semua perubahan ini menunjukkan kompleksitas yang lebih tinggi dalam pengelolaan dan penggunaan energi dalam F1 2026.





