Mengapa Netanyahu Menghambat Damai di Timur Tengah?

by -62 Views

Konflik di Timur Tengah kembali memanas dengan eskalasi Israel di Lebanon yang dianggap tidak hanya operasi militer biasa. Seorang pakar menilai bahwa langkah Tel Aviv di Lebanon merupakan bagian dari “strategi jangka panjang” yang membuat perdamaian sulit diwujudkan dalam waktu dekat di Teluk. Konflik ini dimulai pada awal Maret setelah Hizbullah merespons serangan terhadap Iran, yang kemudian diikuti oleh serangan udara besar Israel dan perluasan operasi darat di Lebanon selatan.

Menurut Presiden Pusat Studi Timur Tengah dan dosen tamu Universitas HSE Moskow, Murad Sadygzade, operasi militer Israel di Lebanon bukan hanya tentang serangan presisi terhadap infrastruktur militer Hizbullah. Ia mengatakan bahwa Israel sedang membentuk ulang realitas militer dan politik di Lebanon selatan dengan membentuk “zona keamanan” yang pada akhirnya berarti memiliki kontrol wilayah jangka panjang.

Eskalasi konflik ini juga menimbulkan korban sipil dan tekanan regional yang semakin meningkat. Serangan besar pada 8 April menjadi titik paling berdarah dengan lebih dari 100 target Hizbullah diserang oleh Israel di berbagai wilayah Lebanon, yang menyebabkan korban jiwa dan cedera serta memaksa lebih dari 1 juta warga untuk mengungsi.

Konflik juga menjadi alat politik bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaannya dalam politik domestik Israel. Konflik ini memberinya kesempatan untuk mengalihkan perhatian publik dari krisis internal dan menunda potensi pemilihan umum yang dapat merugikan posisinya. Namun, Sadygzade mengatakan bahwa konflik ini telah berubah menjadi proyek geopolitik yang melibatkan kepentingan teritorial, tekanan domestik, dan dinamika regional yang membuat perdamaian di Timur Tengah tampak semakin jauh.

Source link