Wusi Tungkau Nansarunai: Kisah Jiwa yang Tak Runtuh di Usak Jawa

by -55 Views

Pementasan Sendratari “Wusi Tungkau Nansarunai” Merayakan Memoar Bangsa Dayak Ma’anyan

Di bawah cahaya lampu panggung UPT Taman Budaya Kalimantan Tengah pada malam Jumat, 1 Mei 2026, sebuah memoar kolektif bangsa Dayak Ma’anyan dihidupkan kembali melalui pementasan sendratari yang menginspirasi.

Kisah Kehancuran dan Kebangkitan

Pementasan yang bertajuk “Wusi Tungkau Nansarunai” bukan sekadar gerak tari, melainkan sebuah refleksi dalam-dalam tentang kehancuran, nafsu, dan kekuatan untuk bangkit dari puing-puing sejarah. Cerita ini berawal dari kejayaan Kerajaan Nansarunai, sebuah kerajaan purba Suku Dayak Ma’anyan di Kalimantan.

Kerajaan ini hidup dalam harmoni di bawah kepemimpinan Amah Jarang, merayakan kesuburan tanah melalui ritual wadian dan nyanyian syukur. Namun, kedamaian tersebut terusik oleh kenyataan pahit “Nansarunai Usak Jawa” yang menghancurkan peradaban mereka.

Pesan Filosofis yang Kuat

Di balik kisah tragis tersebut, pementasan ini menyampaikan pesan filosofis tentang pengendalian diri. Produser pementasan, Alfirdaus, menekankan bahwa hawa nafsu yang tak terkendali menjadi pemicu utama kehancuran Nansarunai.

Ratusan penonton yang memadati tribun UPT Taman Budaya menyaksikan eksodus Suku Dayak Ma’anyan ke hutan Barito demi menjaga kelangsungan hidup. Namun, pementasan ini juga memberikan pesan kuat bahwa kehancuran bukanlah akhir, melainkan awal dari proses pemulihan.

Pementasan sendratari “Wusi Tungkau Nansarunai” menjadi pengingat bahwa menjaga akar budaya adalah kunci harga diri sebuah bangsa. Harapan besar disandarkan pada generasi muda untuk memahami dan menjaga warisan budaya tersebut.

Malam itu, panggung UPT Taman Budaya menjadi saksi bahwa meskipun Nansarunai fisik telah musnah, jiwa dan identitas bangsa Dayak Ma’anyan tetap hidup dalam karya seni yang membangkitkan semangat baru.

Source link