Pagelaran Busana Mahasiswa UC Surabaya: Skizofrenia dan UMKM

by -97 Views

Mahasiswa UC Surabaya Berani Angkat Berbagai Isu dalam Fashion Show

Semakin berkembangnya industri fashion, gelaran fashion show tidak hanya sekadar menampilkan tren busana terbaru. Melainkan juga menjadi wadah untuk menyampaikan isu-isu sosial, budaya, teknologi, dan keberlanjutan yang tengah berkembang. Fashionology 2026 yang diselenggarakan oleh Program Studi Fashion Product Design and Business, Fakultas Industri Kreatif Universitas Ciputra (UC) Surabaya, menjadi bukti nyata bagaimana fashion dapat menjadi medium untuk menyuarakan berbagai isu yang relevan.

Karya Streetwear Konseptual “Interior” Muncul dengan Estetika dan Makna yang Dalam

Salah satu karya yang mencuri perhatian dalam acara tersebut adalah koleksi streetwear konseptual “Interior” karya Jocelin Clementine. Melalui koleksi ini, Jocelin berhasil menyampaikan kompleksitas psikologis penderita Skizofrenia Paranoid dengan sangat menggugah. Menggunakan denim dan katun sebagai bahan utama, koleksi ini tidak hanya terlihat personal dan gelap, namun juga sangat indah.

Jocelin menggunakan detail-detail garmen yang cerdas dalam koleksinya untuk menggambarkan pengalaman penderita skizofrenia paranoid. Siluet oversized, konstruksi asimetris, motif mata, aksen slashing, serta lilitan tali merah dan rantai, semuanya dirancang dengan teliti untuk menggambarkan perasaan yang dialami oleh penderita penyakit tersebut. Melalui mode, Jocelin berhasil menyampaikan pesan dengan indah tanpa menciptakan stigma negatif.

Kesenangan Hip Hop Lokal, Kreativitas Limbah Batik, dan Dukungan UMKM

Di sisi lain, Muhammad Atho’ilah membawa energi jalanan lewat koleksi streetwearnya yang terinspirasi dari Budaya Skena Hip Hop Lokal. Menariknya, dalam koleksinya, Atho’ilah berkolaborasi dengan pengrajin batik lokal untuk menggunakan limbah kain batik sisa. Melalui teknik patchwork dan applique, ia berhasil menciptakan pakaian streetwear yang unik, tetapi tetap mengakar pada identitas lokal.

Yoanita Kartika Sari Tahalele, selaku Ketua Program Studi, menjelaskan bahwa karya mahasiswa UC tidak hanya sekadar estetis, tetapi juga memiliki tujuan untuk menjawab isu-isu yang ada di masyarakat. Fashionology 2026 bukan hanya ajang presentasi karya, tetapi juga jembatan bagi para mahasiswa untuk terhubung dengan industri. Dengan demikian, mereka dapat menghadapi tantangan nyata dalam dunia fashion.

Dengan berani mengangkat berbagai isu sosial dan budaya melalui fashion show, mahasiswa UC Surabaya memberikan inspirasi bahwa moda bukan hanya sekadar penampilan, tetapi juga pesan dan cerita yang ingin disampaikan. Melalui karya-karya mereka, mereka mampu menginspirasi dan membuka mata banyak orang akan keberagaman isu yang ada di sekitar kita.

Source link