Data PPA DKI: 169 Kasus Kekerasan Perempuan-Anak di Jaksel (2021)

by -65 Views

Jagakarsa Jadi Tertinggi, Kekerasan Perempuan dan Anak di Jakarta Selatan Capai 169 Kasus

Korban Kekerasan di Jakarta Selatan

Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa kekerasan perempuan dan anak di Jakarta Selatan mencapai 169 kasus selama Semester I 2026. Dari data tersebut, Kecamatan Jagakarsa menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, mencapai 27 kasus.

Bentuk Sinergisitas dan Kolaborasi

Kepala Sudin Kominfotik Jakarta Selatan, Netti Herawati, mengungkapkan hal ini dalam kegiatan Literasi Digital yang bertema “Pencegahan Kekerasan Seksual terhadap Perempuan dan Anak di Ruang Digital” di RPTRA Beringin, Kelurahan Jagakarsa, Kecamatan Jagakarsa. Kegiatan ini merupakan bentuk sinergisitas lintas sektor untuk membangun masyarakat cerdas, aman, dan terlindungi, baik di ruang fisik maupun digital.

Masyarakat Jakarta Selatan menggunakan pos pengaduan di RPTRA sebagai sarana untuk melaporkan kasus kekerasan, dengan total 12 laporan. RPTRA telah menjadi tempat yang dipercaya masyarakat untuk mendapatkan perlindungan dan layanan pengaduan.

Arena Kekerasan di Ruang Digital

Netti Herawati juga menyoroti ruang digital sebagai tempat yang rentan terhadap berbagai bentuk kekerasan, terutama kekerasan seksual. Kemudahan berinteraksi melalui media sosial, WhatsApp, dan forum diskusi dapat membuka risiko terjadinya kekerasan seksual, mulai dari penyebaran foto pribadi tanpa izin hingga penguntitan siber.

Kekerasan di ruang digital tidak hanya mengancam keamanan online seseorang, namun juga dapat menimbulkan trauma psikologis dan tekanan sosial. Oleh karena itu, kegiatan literasi digital sangat penting untuk mencegah kekerasan seksual di Jakarta Selatan.

Pentingnya Pendidikan Literasi Digital

Sekretaris Camat Jagakarsa, Imam Hadi, menekankan bahwa pendidikan literasi digital sangat diperlukan mengingat teknologi dan media digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Banyak masyarakat yang belum memahami cara menggunakan teknologi secara bijak, sehingga kegiatan seperti literasi digital akan membantu mereka berinteraksi secara aman di ruang digital.

Source link