Warga RI Ramai Check-in Hotel, Pengusaha Gelisah-Bagaimana Solusinya?

by -55 Views

Kenaikan Okupansi Hotel Belum Jadi Penanda Pemulihan Industri

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mengatakan bahwa kenaikan okupansi hotel sepanjang semester I-2026 bukanlah sinyal bahwa industri perhotelan sudah pulih sepenuhnya. Meskipun terjadi peningkatan keterisian kamar selama libur Lebaran dan libur sekolah, pendapatan hotel masih belum membaik.

Menurut Sekretaris Jenderal PHRI, Maulana Yusran, kenaikan okupansi pada kuartal II-2026 terutama dipengaruhi oleh libur sekolah. Namun, ia menekankan bahwa kenaikan tersebut bersifat musiman dan belum mencerminkan perbaikan fundamental industri.

Tantangan Bagi Pelaku Usaha Hotel

Maulana mengungkapkan bahwa meskipun industri hotel mengalami peningkatan dari tahun 2021 hingga 2024, situasinya berbalik pada 2025 setelah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah menekan aktivitas korporasi. Hingga Mei 2026, rata-rata okupansi hotel nasional masih berada di level 46,96%, lebih rendah dari tahun 2024 yang mencapai 52,50%.

Masalah utama yang dihadapi oleh pelaku usaha hotel adalah pendapatan yang tertekan. Kenaikan tingkat hunian tidak diikuti oleh peningkatan pendapatan, karena hotel terpaksa memberikan diskon untuk menarik tamu. Selain itu, hotel sulit menikmati periode high season untuk menaikkan tarif kamar.

Tantangan Bersaing di Pasar

Maulana juga menyoroti persaingan di pasar hotel, di mana meskipun tingkat okupansi tinggi, hotel harus tetap bersaing dengan kompetitor sekitarnya. Hal ini membuat tarif kamar tetap rendah meskipun kamar terisi penuh.

Dengan kondisi tersebut, PHRI memandang bahwa pemulihan industri perhotelan masih belum tercapai, dan pelaku usaha hotel diharapkan memiliki strategi yang tepat untuk menghadapi tantangan yang ada.

Source link