Rahasia AI Terbaru dari Wina – TIMES Indonesia

by -49 Views




Perburuan Rahasia yang Melibatkan Raka Saputra

Perjalanan Misterius Raka Saputra

Jakarta – Hujan turun di ibu kota Negara Nusantara sejak lewat tengah malam. Air mengalir dari atap-atap gedung, membawa debu, serpihan daun, dan sisa poster propaganda yang telah robek. Pada salah satu poster yang masih menempel di tembok, tampak gambar burung naga berwarna emas dengan tulisan besar: NUSANTARA KUAT, RAKYAT BERMARTABAT. Di bawah slogan itu, seorang lelaki berjaket hitam berdiri sambil memandangi layar telepon genggamnya. Tubuhnya tegap, wajahnya tenang, tetapi sorot matanya terus bergerak menyapu keadaan. Lelaki itu bernama Raka Saputra.

Misi Rahasia yang Berbahaya

Sudah dua puluh tahun Raka bekerja sebagai jurnalis. Rambut di dekat pelipisnya mulai dihiasi warna perak, tetapi ketampanan dan kewibawaannya belum luntur. Usia telah mengajarinya bahwa bahaya jarang datang sambil berteriak. Bahaya sering muncul sebagai mobil yang parkir terlalu lama, orang asing yang pura-pura sibuk, atau pesan singkat yang terlihat biasa.

Perjalanan Menuju Wina

Telepon di tangannya menampilkan satu kalimat: Gudang tua Blok 17. Datang sendiri. Bawa alat perekam. Jangan percaya siapa pun dari Zoltrax. Pesan itu dikirim oleh nomor tanpa identitas. Raka memandang gudang di seberang jalan. Bangunan tersebut berdiri di antara deretan bengkel yang sudah tutup. Sebuah lampu kuning tergantung di atas pintu besi. Nyala lampu bergetar ditiup angin seperti mata tua yang sedang menahan kantuk.

Raka melangkah menyeberangi jalan. Di dalam saku jaketnya terdapat alat perekam kecil, buku catatan, dan sebuah pena logam pemberian Kyai Mahbub Syakir. Sang kyai pernah berkata bahwa pena itu tidak memiliki kesaktian apa pun. Kekuatannya bergantung pada tangan yang memegang dan niat orang yang menulis.

Kalimat itu selalu teringat setiap kali Raka menerima informasi sensitif. Pintu gudang tidak terkunci. Raka mendorongnya perlahan. Bau besi berkarat dan oli memenuhi udara. Gudang itu gelap, kecuali satu lampu di ruangan belakang. Di antara tumpukan mesin rusak, seseorang duduk di atas peti kayu. Lelaki itu mengenakan mantel abu-abu dan topi yang ditarik rendah.

“Anda Raka Saputra?” tanyanya. “Kalau saya menjawab ya, apakah Anda akan menyebutkan nama?” Lelaki itu tersenyum hambar. “Nama tidak akan menyelamatkan saya.” Raka berhenti tiga langkah di depannya. “Namun identitas menentukan apakah informasi Anda layak dipercaya.”

Lelaki itu mengeluarkan kartu pegawai. Nama pada kartu tersebut tertulis Damar Ardhana, analis senior Zoltrax Corporation. Zoltrax bukan perusahaan biasa. Korporasi raksasa itu mengendalikan jaringan komunikasi, pasokan energi, pertahanan siber, serta sebagian besar pusat data Dragonesia. Para menteri datang silih berganti, tetapi kontrak Zoltrax selalu bertahan.


Source link