JURNALIS PENULIS TAKDIR Episode 8: Dua Saudara, Satu Kesadaran
Cahaya merah dan biru bertabrakan di bawah kubah observatorium, lalu pecah menjadi ribuan serpihan yang tidak jatuh ke lantai, melainkan menembus tubuh Raka dan Rahsa seperti hujan yang bergerak menuju arah sebaliknya. Dalam satu detik, keduanya masih berdiri saling berhadapan dengan tangan terkunci pada bahu masing-masing.
Di dalam ruang tanpa batas yang dipenuhi pintu-pintu berisi ingatan, Raka dan Rahsa menemukan lingkaran emas raksasa. Keputusan besar harus diambil, ketika tiap pintu memuat ingatan dengan dua versi yang berbeda untuk setiap keputusan yang pernah mereka hadapi.
Perpektif Kesadaran
Di tengah ruang tanpa batas, Raka dan Rahsa disadari bahwa suatu kesadaran baru harus diciptakan untuk menjaga lapisan ketujuh, tanpa harus mengorbankan satu individu untuk hal itu.
Kedua saudara akhirnya menyadari bahwa keputusan yang akan mereka ambil bukan hanya mengenai hidup dan mati, tetapi juga tentang menciptakan kesadaran baru yang bisa menjaga keselamatan dunia tanpa harus mengorbankan satu dari mereka. Perjanjian keduanya untuk menjadi host relasional dan bersatu menghadapi pilihan yang sulit menjadi kunci untuk menciptakan identitas baru.
Pertemuan dengan Ayah
Di dalam lingkaran emas di tempat observatorium hancur, Rahsa mulai berbicara dengan suara yang bukan lagi miliknya atau Viranox, melainkan suara yang dikenali Raka sebagai suara Ayah mereka. Rahsa mengingatkan Raka untuk mencegah Luna membuka arsip tentang Nusantara.
Pada saat yang sama, tubuh Ayah mereka, Arya Saputra, mengembuskan napas terakhir di Forum Wina. Di Pesantren Al-Hikmah, proyek rahasia yang melibatkan “Penulis Takdir” aktif kembali setelah ratusan tahun.
Dengan lingkaran emas yang menyatukan mereka, keduanya mencapai kesepakatan untuk menciptakan identitas baru dan menjaga lapisan ketujuh tanpa membalas kebaikan dengan kejahatan. Serta memastikan bahwa masa lalu tidak terulang dengan cara yang merugikan.
Dengan matahari yang terbit dan cahaya yang memancar, puluhan pasang wajah yang berasal dari masa lalu muncul di sekeliling mereka, mengenakan pakaian dari berbagai zaman dan bangsa yang berbeda, namun semua membawa satu nama yang pernah dihapus dari sejarah.
Dan saat yang terakhir, pasangan terakhir yang mengenakan pakaian santri menunjukkan bahwa mereka bukanlah saudara pertama yang dipisahkan untuk menjaga lapisan ketujuh.
Inilah kesinambungan petualangan yang menyajikan keputusan berat, kebenaran yang tersembunyi, serta cinta dan pengorbanan di antara dua saudara yang dibentuk oleh takdir yang sama namun memilih jalur yang berbeda.
Untuk mengetahui kelanjutan ceritanya, jangan lewatkan Episode 9: “Makam Tanpa Nama di Al-Hikmah.”

