Annual Dinner Angkat Semangat Kemitraan untuk Masa Depan Konservasi

by -103 Views

Sejak didirikan dua tahun lalu, Paseban Foundation semakin mempertegas eksistensinya sebagai pusat jaringan antara para pelaku konservasi, dunia ilmu pengetahuan, dan komunitas yang peduli lingkungan. Hal ini tampak kuat dalam gelaran Annual Dinner tahun 2026 yang bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional, momen yang juga menandai perjalanan dua tahun lembaga ini.

Dengan tajuk “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve”, acara tersebut menjadi wadah bertemunya berbagai elemen kunci, mulai dari kementerian pemerintah, perwakilan internasional seperti FAO dan UNESCO, akademisi, korporasi, hingga anak muda dan publik dari berbagai profesi dan latar belakang. Semua berkumpul di bawah satu visi, yaitu menjaga kelestarian Bentang Alam Megamendung dan Cagar Biosfer Cibodas.

Pentingnya sinergi antara banyak pihak menjadi benang merah pertemuan tersebut, mengingat tantangan konservasi yang dihadapi tak bisa diatasi oleh satu sektor atau lembaga saja. Paseban Foundation menekankan bahwa mengelola kawasan seperti Megamendung menuntut keterpaduan lintas institusi, mulai dari pemerintah, dunia usaha, hingga para peneliti dan masyarakat lokal.

Pendiri lembaga, Andy Utama, menyoroti betapa vitalnya regenerasi dalam menjaga keberlanjutan gerakan konservasi. Ia mengingatkan, kerja konservasi bukan untuk satu masa pengabdian atau satu kelompok saja—ada kebutuhan untuk meneruskan tongkat estafet ke generasi berikutnya. Dengan demikian, Paseban Foundation berfungsi sebagai simpul yang menyatukan kekuatan berbagai pihak agar setiap elemen bisa menyumbangkan kapasitasnya menjaga dan merawat lingkungan.

Paseban Foundation sendiri tidak mengklaim peran sentral dalam setiap inisiatif pelestarian, melainkan memilih posisi sebagai fasilitator yang menghubungkan demi sinergi. Pengalaman mereka di lapangan menjadi nilai lebih, utamanya dalam menggerakkan konservasi berbasis perlindungan habitat, restorasi ekosistem, penanaman ribuan pohon lokal, serta program penangkaran fauna seperti rusa secara non-komersial.

Untuk melengkapi upaya lapangan, yayasan ini juga melakukan survei biodiversitas, pemantauan langsung, serta penggunaan kamera jebak guna mendokumentasikan keberadaan primata Jawa dan satwa lain seperti Elang Jawa dan Macan Tutul Jawa. Bahkan, Direktur Eksekutif Wahdi Azmi menegaskan bahwa hasil monitoring telah memastikan eksistensi lima spesies primata endemik di suatu lanskap yang kecil, sesuatu yang unik di Pulau Jawa yang padat penduduk.

Keunggulan lainnya dari Paseban Foundation ialah kemampuannya mengelola data lapangan menjadi pengetahuan praktis. Data, insight dan pengalaman lapangan dikemas menjadi referensi bagi penelitian, pendidikan, advokasi, serta penguatan komunikasi publik. Melalui publikasi buku, dokumentasi film, maupun peluncuran karya seperti “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban”, pengetahuan ini bukan hanya menjadi konsumsi internal, melainkan juga ditujukan untuk meningkatkan partisipasi publik dan menyediakan pijakan untuk kolaborasi.

Para tokoh dan pejabat pun melihat kiprah Paseban Foundation dengan optimisme. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyoroti betapa pentingnya data konservasi diolah dan dibagikan ke masyarakat luas. Ia menilai, funsi Paseban Foundation sebagai penghubung strategis mampu menghadirkan berbagai kekuatan dalam upaya menjaga Cagar Biosfer Cibodas.

Kolaborasi dan keterlibatan lintas generasi turut ditekankan oleh Indra Exploitasia dari Kementerian Kehutanan yang berharap generasi muda bisa mengambil peran aktif. Ia menegaskan, regenerasi penting untuk memastikan kelestarian lingkungan terus berlanjut di masa mendatang.

Wiratno sebagai penasihat menegaskan, karakteristik bentang alam yang tak berbatas administratif menuntut kepemimpinan kolektif. Air, satwa, dan hutan harus dikelola dengan menyatukan tujuan beragam pihak. Ia menekankan, leadership di bentang alam adalah soal membangun kesepakatan dan kebersamaan, bukan sekadar memimpin struktur formal.

Melalui pendekatan berbasis kolaborasi, pengalaman nyata di lapangan, serta pengelolaan pengetahuan yang adaptif, Paseban Foundation berharap upaya konservasi di Bentang Alam Megamendung tetap berlanjut dari generasi ke generasi. Dengan fondasi dan model kerja yang menyatu, mereka optimis bahwa pelestarian alam tak hanya berjalan lewat satu program atau figur, tetapi melalui semangat bersama dan keberlanjutan regenerasi.

Sumber: 21.831 Pohon Ditanam Di Megamendung, Paseban Foundation Siapkan Konservasi Hingga Generasi Berikutnya
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut