Syarat Super Berat Kim Jong Un untuk Pertemuan dengan Trump

by -58 Views

Trump Akan Bertemu Kim Jong Un, Pyongyang Bersikap Dingin

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terang-terangan menyatakan keinginannya untuk bertemu kembali dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, pada akhir tahun ini. Namun, respons dingin dari Pyongyang menunjukkan persyaratan ketat yang diberlakukan, meskipun kedua pemimpin itu memiliki hubungan pribadi yang luar biasa.

Langkah Berani Trump dan Respons Dingin Pyongyang

Trump memangkas skala latihan militer gabungan AS-Korea Selatan, yang dipandang bermusuhan oleh Korea Utara. Sebuah sumber menyatakan bahwa Trump bertekad untuk kembali memulai pembicaraan untuk meraih kemenangan politik internasional, di tengah ketidakpastian akhir dari perang enam bulan di Iran.

Pyongyang saat ini mengirim pasukan dan peralatan tempur untuk mendukung Rusia di Ukraina. Pemerintah Korea Selatan menerima strategi Trump, namun tetap meragukan manfaat keamanan dari pengurangan latihan militer gabungan.

Peluang Pertemuan Regional di China

Trump berencana untuk menghadiri KTT APEC di Shenzhen, China, kemungkinan besar pada akhir tahun ini. Agenda tersebut dapat membuka peluang pertemuan regional yang nyata jika Korea Utara bersedia. Departemen Luar Negeri AS tetap terbuka untuk dialog tanpa prasyarat dengan Korea Utara.

Kim Yo Jong, adik perempuan Jong Un, menepis niat baik dari pemangkasan skala latihan militer Ulchi Freedom Shield. Latihan militer tersebut tetap dianggap agresif dan kebijakan AS masih dipandang memusuhi Korea Utara. Korea Utara menembakkan 10 rudal balistik sebagai protes terhadap latihan gabungan tersebut.

Prasyarat Tinggi dari Korea Utara

Korea Utara menetapkan prasyarat tinggi bagi AS, termasuk perubahan besar dalam kebijakan permusuhan AS, pengakuan atas status nuklir Korea Utara, atau deklarasi resmi tentang denuklirisasi. Sejarah menunjukkan bahwa Trump telah mengadakan pertemuan dengan Jong Un pada 2018 dan 2019, namun tuntutan sepihak AS untuk menyerahkan senjata nuklir menghambat diplomasi.

Korea Utara memiliki lebih sedikit insentif untuk menyetujui pertemuan demi pelonggaran sanksi karena hubungan dagang yang sukses dengan China dan Rusia. Meskipun keras, pernyataan Kim Jong Un dan Kim Yo Jong tetap terbuka untuk diplomasi di masa depan.

Source link