Bumi di Ujung Tanduk: Ancaman Ekonomi Terhadap Warga Dunia

by -47 Views

Kesuburan Global Merosot: Konsekuensi dan Ancaman Ekonomi

Jakarta, CNBC Indonesia – Sebuah studi baru dengan judul “Terra Incognita: The Economics of a Shrinking World” mengungkapkan bahwa tingkat kesuburan global diprediksi telah turun di bawah level penggantian untuk pertama kalinya dalam sejarah. Profesor ekonomi Jesus Fernandez-Villaverde dari University of Pennsylvania bersama peneliti Patrick Norrick dari Northwestern University menyatakan bahwa kondisi ini dapat menempatkan populasi dunia pada jalur penurunan drastis dalam satu generasi mendatang.

Tingkat Kesuburan yang Rendah: Ancaman Besar bagi Manusia

Penelitian tersebut menduga bahwa manusia sudah berada di bawah tingkat kesuburan penggantian yang diperlukan untuk menjaga populasi tetap stabil. Dalam studi tersebut, tingkat kesuburan saat ini diperkirakan berada di angka 2,19, sedangkan ambang batas global adalah sekitar 2,2. Hal ini berarti bahwa rata-rata setiap wanita memiliki kurang anak dari yang diperlukan untuk menggantikan populasi secara konstan.

Meskipun saat ini populasi global masih terus tumbuh karena efek generasi sebelumnya yang memiliki keturunan, namun para peneliti memperkirakan bahwa pertumbuhan ini hanya akan berlangsung selama tiga dekade ke depan. Setelah mencapai puncaknya sekitar 9 miliar pada tahun 2056, populasi kemungkinan akan mengalami penurunan.

Konsekuensi Ekonomi dan Sosial yang Luas

Penyusutan jumlah kelahiran ini juga memiliki dampak ekonomi yang luas. Generasi yang lebih kecil berarti lebih sedikit tenaga kerja yang harus menopang populasi yang menua, meningkatkan beban keuangan pensiun, perawatan kesehatan, dan anggaran publik. Di Amerika Serikat, pertumbuhan produktivitas yang dikombinasikan dengan kontraksi tenaga kerja diperkirakan akan memperlambat pertumbuhan PDB jangka panjang menjadi sekitar 1,5%, menurun dari 2%.

Studi ini juga menyoroti bahwa tren kesuburan rendah telah menyebar ke seluruh dunia, tidak hanya terjadi di negara-negara maju. Thailand, Kolombia, Iran, dan Brasil adalah beberapa contoh negara dengan tingkat kesuburan rendah yang telah tercatat. Para peneliti juga menekankan bahwa tidak ada solusi instan untuk meningkatkan kesuburan kembali, karena berbagai faktor seperti biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, gaya hidup, dan perubahan sosial turut mempengaruhi.

Jadi, kesuburan global yang merosot bukan hanya masalah demografi, tetapi juga dapat membawa dampak serius terhadap ekonomi dan kesejahteraan sosial global.

Source link