Dinamika global saat ini menyoroti pentingnya memahami bagaimana arus keuangan, informasi, dan barang fisik antarnegara bisa menghasilkan risiko baru bagi suatu negara, sekaligus menawarkan sarana untuk mengelolanya. Konflik yang terjadi antara Ukraina dan Rusia, serta konfrontasi yang melibatkan Iran, menjadi bukti konkret terhadap risiko tersebut. Kedua konflik ini, walau bisa disebut perang terbatas, memiliki dampak yang terasa hingga melintasi batas-batas regional mereka. Peristiwa di Ukraina menimbulkan gangguan pada distribusi pangan dunia, sementara ketegangan di Iran memperlihatkan kerentanan pasokan energi global. Hal ini terjadi bukan hanya karena produksi menurun, tetapi juga akibat rusaknya rantai distribusi. Dengan kata lain, gangguan seringkali terjadi ketika distribusi terganggu, bukan sekedar produksi yang berkurang.
Serangan pada kapal-kapal di sekitar Selat Hormuz sudah cukup meningkatkan biaya asuransi dan risiko perjalanan, sehingga perusahaan pelayaran menahan pelayaran mereka. Meskipun pelayaran tidak sepenuhnya dihentikan atau diambil alih, dampaknya segera terasa dalam pengurangan volume minyak yang melintasi jalur tersebut. Data International Energy Agency menandai gangguan di Selat Hormuz sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar minyak global. Taktik yang digunakan Iran memperlihatkan tidak perlu ada tindakan fisik besar-besaran; cukup dengan menciptakan kondisi yang membuat pelayaran terasa terlalu berisiko. Sementara itu, perang di Ukraina mengajarkan bahwa ketika satu jalur transportasi utama seperti pelabuhan Laut Hitam terganggu, alternatif yang ada tidak bisa langsung menggantikan kapasitas distribusi yang hilang. Bahkan, hambatan pengiriman pupuk dari Rusia dan Belarus ikut mempengaruhi produksi pangan negara-negara lain pada musim tanam berikutnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa meski perekonomian dunia telah terhubung, tetap saja ada simpul-simpul penting atau chokepoint yang menjadi titik vital. Ketergantungan yang tinggi pada satu simpul seperti pelabuhan, selat, atau jaringan distribusi dapat menjadi bumerang jika terjadi konflik, karena ketika titik tersebut terganggu, seluruh jaringan ikut terpengaruh. Inilah inti dari apa yang disebut efek chokepoint menurut Farrell dan Newman. Ketergantungan pun tidak hanya ada pada aspek fisik seperti pelabuhan atau jalur laut; bahkan jaringan keuangan, perangkat lunak, semikonduktor, dan infrastruktur digital juga bisa menjadi titik lemah yang sangat krusial. Instrumen-instrumen ekonomi seperti sanksi, pemutusan akses asuransi, hingga pelarangan akses teknologi bisa berdampak sama besar dengan serangan fisik dalam upaya melemahkan negara.
Implikasi dari konflik-konflik ini jelas: dampak tidak hanya dirasakan oleh negara yang terlibat langsung dalam perang, tetapi juga negara lain yang bergantung pada pasokan pangan, energi, dan bahan baku dari kawasan konflik. Contohnya adalah Indonesia, yang berada jauh dari konflik tersebut namun ikut terdampak oleh fluktuasi harga energi dan bahan pangan dunia akibat gangguan di luar negeri. Hal serupa dapat terjadi di bidang lain, seperti jaringan telekomunikasi atau infrastruktur data yang menghubungkan antar pulau dalam negeri. Artinya, negara yang tidak ikut berperang secara militer pun bisa menerima imbas yang cukup berat jika salah satu simpul kritis mereka terganggu imbas efek domino konflik di luar negeri.
Penting bagi Indonesia untuk mendesain strategi pertahanan nasional yang mempertimbangkan dua skenario: pertama, jika negara ini diserang secara langsung dan simpul-simpul vital seperti pelabuhan, fasilitas energi, atau pusat data dijadikan sasaran; kedua, jika perang di wilayah lain memutus rantai pasok global yang dibutuhkan Indonesia tanpa negara ini terlibat secara militer. Pelajaran dari Ukraina dan Iran memperkuat pemahaman bahwa kebutuhan militer dan logistik kini semakin terkait erat dengan jaringan suplai internasional. Ketahanan nasional tidak bisa lagi hanya mengandalkan kekuatan senjata, tetapi juga kesiapan sistem distribusi, keandalan alternatif pasokan, dan kemampuan memulihkan operasi jika terjadi gangguan.
Dari sini, pendekatan dalam perencanaan pertahanan harus berubah dari sekadar kalkulasi kekuatan militer lawan, menjadi fokus pada fungsi penting yang harus selalu berjalan. Menentukan barang atau jasa strategis apa yang diperlukan agar negara tetap bertahan jika terjadi perang di luar negeri menjadi keharusan. Swasembada, misalnya, tidak otomatis berarti tahan krisis jika tetap bergantung pada bahan baku atau teknologi dari luar. Sebaliknya, ketergantungan bisa tetap stabil jika ada cadangan, jalur alternatif, dan sistem redundansi. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, titik rentan tidak hanya terletak pada selat-selat atau pelabuhan utama, tetapi juga di jaringan distribusi barang, data center, kabel bawah laut, dan sistem pembayaran digital yang saling terhubung.
Inti pelajaran yang bisa diambil dari Perang Ukraina dan gejolak di Iran bukanlah perlunya memutus hubungan dari jejaring global, melainkan memahami dan menyiapkan mitigasi risiko pada setiap simpul kritis dalam jaringan interdependensi tersebut. Dalam membangun daya tahan bangsa, perencanaan harus mengidentifikasi fungsi-fungsi strategis mana yang tidak boleh berhenti, simpul apa yang sulit diganti, dan berapa cadangan waktu serta sumber daya yang diperlukan jika terjadi disrupsi besar.
Sebagai gambaran, bayangkan masa depan anak-anak Indonesia yang bercita-cita besar, namun terbatas aksesnya hanya karena satu sumber daya hilang akibat gangguan di luar negeri. Mewujudkan ketahanan nasional adalah tugas bersama agar peluang mereka tidak terhenti pada satu titik kritis. Melalui inisiatif kolektif, kita bisa memperkuat fondasi bangsa dan memastikan setiap simpul penopang kehidupan nasional tetap terjaga di tengah tantangan global.
Sumber: Perang Terbatas, Dampak Global: Broto Wardoyo Soroti Ketahanan Pertahanan Indonesia
Sumber: Menakar Dampak Tak Terbatas Dari Perang Terbatas





