SDA Melimpah, DBS Ungkap Peluang Pengembangan EV di Indonesia

by -73 Views

Pengembangan kendaraan listrik (EV) di Indonesia dinilai tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan pabrik kendaraan atau baterai. Industri ini membutuhkan ekosistem menyeluruh yang menghubungkan sumber daya mineral, manufaktur, penyimpanan energi, produksi baterai, hingga daur ulang.

Direktur Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia Antonius Sehonamin mengatakan elektrifikasi kendaraan telah menjadi tren besar yang membentuk arah industri otomotif. Menurut dia, Indonesia memiliki modal penting untuk mengambil bagian dalam perubahan tersebut melalui kekayaan sumber daya alam, terutama nikel dan tembaga.

“Untuk itu semua kami melihat bahwa ada tiga, jadi harus ada investasi, ada kapabilitas, dan harus ada pengembangan ekosistem,” ujar Antonius dalam Coffee Morning bertajuk “Building a Resilient Automotive Ecosystem Beyond EV Amid Global Supply Chain Shift” yang digelar CNBC Indonesia bersama DBS Indonesia, Kamis (17/9/2026).

Rantai nilai otomotif perlu dibangun menyeluruh

Antonius menekankan, hilirisasi otomotif tidak dapat berjalan apabila pengembangan industri hanya berfokus pada satu segmen. Menurut dia, rantai nilai industri perlu dibangun dari hulu hingga hilir, termasuk manufaktur canggih serta sektor baterai yang mencakup penyimpanan energi, produksi, dan proses daur ulang.

Ia memandang industri otomotif sebagai satu ekosistem yang saling terhubung, bukan kumpulan segmen yang berjalan terpisah. Dalam ekosistem tersebut, rantai bisnis mencakup sektor hulu, produsen kendaraan atau original equipment manufacturer (OEM), distributor, hingga diler.

Perbankan, kata Antonius, memiliki peran dalam mendukung kebutuhan pembiayaan dan transaksi di sepanjang rantai tersebut. “Bagi DBS, kami mau jadi banking partner dari para pemain-pemain,” katanya.

Selain menyediakan solusi perbankan, DBS juga mengandalkan konektivitas regional untuk mendukung transaksi lintas negara para pelaku industri otomotif di Indonesia. Antonius mengatakan dukungan itu diarahkan kepada keseluruhan rantai bisnis, bukan hanya produsen kendaraan.

Pembiayaan mencakup komponen EV dan ICE

Executive Director, Head of Large Corporates, and ESG Lead, Institutional Banking Group, Bank DBS Indonesia Ello Hanson menambahkan bahwa otomotif merupakan salah satu sektor yang memperoleh pembiayaan dari DBS, termasuk kendaraan listrik.

Ia mengatakan keputusan pembiayaan dilakukan dengan mempertimbangkan risiko dan peluang yang terdapat dalam industri tersebut. Fokus pembiayaan juga tidak terbatas pada teknologi kendaraan listrik, tetapi mencakup komponen yang digunakan dalam kendaraan listrik maupun kendaraan bermesin pembakaran internal atau internal combustion engine (ICE).

“Kita sebagai perbankan dari sisi pembiayaan, fokus kita adalah anything yang industri, jadi misalnya kalau yang industri itu yang dipakai di ICE dan yang dipakai di EV, misalnya komponen ban mobil, komponen kelistrikannya, AC, audio, braking, itu adalah komponen-komponen yang memang akan terus dipakai, mau mobilnya ICE, mau mobilnya EV,” ujar Ello.

Pendekatan tersebut menempatkan pembiayaan pada rantai industri dan komponen otomotif yang digunakan lintas jenis kendaraan, seiring perubahan teknologi menuju elektrifikasi.

Source link