Malapetaka Guncang Amerika: Krisis Lebih Besar dari Covid-19

by -58 Views

Pelaku usaha di Amerika Serikat menghadapi gangguan rantai pasok yang dinilai lebih rumit dan menekan dibandingkan masa pandemi Covid-19. Masalahnya bukan hanya perang dengan Iran, tetapi juga lonjakan harga energi, cuaca ekstrem, gangguan pelayaran, larangan ekspor solar Rusia, serta kenaikan biaya bahan baku.

Jeff Vojta, CEO Dilworth Coffee yang berbasis di Raleigh, Carolina Utara, mengatakan bisnisnya mengalami tekanan beruntun. Pada 2024, buruknya panen kopi Brasil mendorong harga kontrak berjangka kopi ke rekor tertinggi. Setahun kemudian, kebijakan tarif global Presiden Donald Trump kembali mengerek harga. Tahun ini, situasi semakin rumit akibat perang dengan Iran dan fenomena Super El Niño.

“Mulai dari gangguan pengiriman, kelangkaan kontainer, tingginya biaya akibat situasi di Laut Merah, hingga mahalnya harga pupuk,” kata Vojta, seperti dikutip CNN International, Senin (21/9/2026).

“Kita sedang menghadapi masa gangguan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Situasinya benar-benar penuh ketidakpastian,” ujarnya.

Rantai pasok terus berjalan, tetapi makin mahal

Tekanan serupa dirasakan perusahaan di berbagai sektor. Survei bulanan Institute for Supply Management (ISM), yang menjadi salah satu acuan iklim bisnis, menunjukkan sejumlah pemimpin usaha bahkan menilai kondisi sekarang lebih buruk daripada periode pandemi.

Pengusaha harus mengambil keputusan sulit ketika biaya logistik dan bahan bakar naik, sementara konsumen yang sudah terbebani inflasi tidak menginginkan kenaikan harga tambahan. Jack Buffington, Direktur Program University of Denver, menyebut persoalan tersebut lebih besar daripada Covid-19 karena berkaitan dengan energi.

“Ini jelas masalah yang lebih besar daripada Covid,” kata Buffington. “Situasinya benar-benar berbeda. Ini adalah masalah energi.”

Pemerintahan Trump sebelumnya menggambarkan perang dengan Iran sebagai guncangan ekonomi sementara. Trump menyatakan harga minyak akan turun drastis setelah perang dimenangkan dan semuanya akan berlangsung cepat, melalui unggahan di Truth Social pada Hari Buruh AS.

Namun, persoalan distribusi dan pasokan yang telah menumpuk membuat inflasi tidak mudah mereda, bahkan jika konflik berakhir. Pada pertengahan Juni, ketika Selat Hormuz kembali dibuka setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman, harga bensin sempat turun di bawah 4 dolar AS per galon. Harga minyak juga merosot ke bawah level sebelum perang. Sejak itu, situasinya kembali berubah.

Harga bahan bakar dan ongkos pengiriman mulai menekan sektor ekonomi lain. Inflasi inti, yang tidak memasukkan harga pangan dan energi, mencatat kenaikan bulanan terbesar sejak April. Kenaikan juga terlihat pada harga jasa, yang biasanya tidak segera turun setelah meningkat.

Usaha kecil berada di titik kritis

Harga solar telah melonjak dua kali lipat sejak Maret, dipengaruhi eskalasi perang di Timur Tengah dan serangan Ukraina terhadap kilang minyak Rusia. Gangguan cuaca turut memperburuk pengiriman. Badai topan berturut-turut sempat menghentikan operasional Pelabuhan Shanghai, pelabuhan peti kemas terbesar di dunia, selama dua minggu dan menimbulkan penundaan panjang.

Berakhirnya konflik Iran juga tidak otomatis memulihkan pasokan. Larangan ekspor solar Rusia telah memangkas 12 persen pasokan solar dunia yang dikirim melalui jalur laut. Sementara itu, aksi pemberontak Houthi di Laut Merah dan pembajakan oleh perompak Somalia di Teluk Aden mendorong kapal mengubah rute dengan memutari Afrika.

Ryan Petersen, CEO Flexport, mengatakan kapasitas pengiriman global berkurang 15 persen tahun ini. “Saya telah berkecimpung di dunia logistik selama 25 tahun, dan saya belum pernah melihat situasi seburuk ini,” katanya.

Sean Brownlee, CEO Ravenox, produsen tali dan pengikat, menyebut dunia usaha AS telah berada di titik kritis, terutama bisnis kecil. “Usaha kecil akan berupaya menanggung beban biaya semampu mereka hingga batas akhir,” ujarnya. Brownlee mengatakan perusahaannya merasakan tekanan langsung dan hanya menginginkan kepastian.

Menurut survei ISM, perbedaan utama dengan pandemi adalah rantai pasok saat ini tidak sepenuhnya berhenti. Pengiriman tetap berlangsung, tetapi berulang kali memburuk, membaik, lalu terganggu kembali, sementara harga bergerak naik turun secara tajam. Brownlee menilai volatilitas tersebut membuat situasi sekarang lebih menekan daripada Covid-19. “Covid sangat menakutkan. (Tapi) situasi ini lebih membuat stres,” katanya.

Source link