160 Ribu Orang Lamar BI, Lulusan Teknologi Masih Minim

by -54 Views

Bank Indonesia menghadapi ketimpangan antara tingginya jumlah pelamar kerja dan terbatasnya talenta teknologi yang sesuai kebutuhan. Dalam rekrutmen tahun ini, sekitar 160.000 orang melamar, tetapi BI hanya menerima kurang dari 150 pegawai.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan sebagian besar pelamar memiliki latar belakang ekonomi dan manajemen. Sementara itu, kebutuhan terbesar lembaga tersebut berada pada bidang teknologi, terutama data science, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan analitik data.

“Kalau rekrutmen tahun ini 160 ribu yang masuk, kami ambil di bawah 150 orang. Kebanyakan yang daftar background-nya ekonomi, manajemen, tapi cari yang teknologi terbatas,” ujar Destry dalam acara FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Kesenjangan talenta teknologi

Menurut Destry, kondisi itu mencerminkan kesenjangan antara permintaan industri terhadap tenaga kerja berkompetensi teknologi tinggi dan ketersediaan sumber daya manusia dengan keahlian tersebut. Kebutuhan itu semakin mendesak seiring cepatnya perkembangan teknologi serta meningkatnya pemanfaatan AI dan data dalam berbagai sektor.

Ia menilai struktur pendidikan di Indonesia perlu mengikuti perubahan kebutuhan tersebut. Salah satu langkah yang didorong adalah meningkatkan minat generasi muda terhadap bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Destry mengutip penyampaian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Brian bahwa penurunan minat terhadap bidang STEM dapat memperlebar jarak antara kebutuhan dan pasokan talenta teknologi.

“Tadi Pak Menteri Brian (Mendikdasmen) menyampaikan minat relatif berkurang masuk ke ilmu STEM itu akan memperlebar gap demand talenta teknologi tinggi dengan supply-nya,” tuturnya.

Menanggapi kebutuhan tersebut, BI akan memperbesar porsi penerimaan bagi calon pegawai dengan latar belakang ilmu pengetahuan alam (IPA) dan bidang yang berkaitan dengan teknologi. Kebijakan itu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kemampuan data science, pemahaman AI, serta analitik data.

“Di BI sekarang dalam rekrutmen prioritaskan kursi latar belakang IPA lebih besar karena faktanya untuk teknologi. Data science kita butuh kemampuan membaca AI dan data analytical yang besar,” jelas Destry.

Pemanfaatan teknologi masih menjadi tantangan

Indonesia, kata Destry, memiliki modal demografi yang kuat untuk berkembang menjadi negara yang semakin terdigitalisasi. Sekitar 69 persen penduduk berada dalam usia produktif. Namun, besarnya jumlah penduduk usia produktif belum otomatis menjamin tersedianya talenta digital yang memadai.

Penggunaan perangkat digital di kalangan masyarakat sudah luas. Hampir setiap anak muda memiliki telepon seluler, bahkan satu orang bisa mempunyai dua hingga tiga perangkat. Persoalannya, perangkat tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk kegiatan produktif.

“Anak muda pasti memiliki HP dan satu orang bisa 2-3 punya handphone, tapi pemanfaatannya masih minim,” kata Destry.

Karena itu, peningkatan literasi teknologi dinilai penting agar masyarakat tidak berhenti sebagai pengguna, tetapi juga mampu menciptakan inovasi berbasis teknologi.

BI saat ini mengembangkan kapasitas internal melalui pendidikan digital bagi sekitar 330 pegawai. Sebelumnya, bank sentral tersebut juga telah membina sekitar 800 talenta untuk dikembangkan menjadi sumber daya manusia dengan kompetensi digital.

Pengembangan itu akan dilakukan secara berkelanjutan karena perubahan teknologi berlangsung cepat. “BI tidak bisa sendiri. Kami meningkatkan capacity building anak-anak muda kami. Tugas kami memang dalam PIDI untuk upscaling dan reskilling digital dan ini mendesak karena inovasi berubah dengan cepat,” ujar Destry.

Source link