Negara Kacau Balau: Perang Saudara di Depan Mata?

by -44 Views

Ethiopia kembali menghadapi ancaman perang saudara setelah pasukan dari wilayah Tigray menyerang sejumlah titik di Afar dan Amhara. Eskalasi ini terjadi bersamaan dengan pembentukan aliansi tujuh kelompok bersenjata yang secara terbuka menargetkan pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed di Addis Ababa.

Perkembangan tersebut memicu kekhawatiran konflik besar seperti perang 2020-2022 kembali pecah. Pertempuran antara militer Ethiopia dan Tigray People’s Liberation Front (TPLF), partai politik sekaligus kelompok paramiliter yang menguasai Tigray, diperkirakan menewaskan sekitar 600.000 orang.

Bandara direbut, pertempuran meluas

Aliansi bernama Ethiopian Peoples’ Forces Alliance for Survival diumumkan pada Minggu (20/9/2026). TPLF termasuk di antara kelompok yang bergabung. Beberapa hari berselang, pada Rabu (23/9/2026), pasukan TPLF merebut kendali atas tiga bandara dari polisi federal.

Ethiopian Airlines kemudian menghentikan penerbangan menuju wilayah tersebut “karena situasi yang sedang berlangsung”. Penerbangan ke Lalibela, kota bersejarah Ethiopia, juga dihentikan pada Kamis (24/9/2026) setelah pertempuran dilaporkan terjadi di sekitar kawasan itu.

Di Afar, sumber kemanusiaan mengatakan kepada AFP bahwa terjadi serangan artileri berat ketika pasukan TPLF berupaya merebut Kota Yallo, yang terletak tidak jauh dari perbatasan Tigray. Sumber keamanan asing yang berbasis di Ethiopia menyebut TPLF telah menguasai Abala, kota di perbatasan Tigray-Afar, pada Rabu. Sumber dari TPLF mengklaim telah mengambil alih beberapa kota lain di Afar.

Pertempuran juga dilaporkan berlangsung di sekitar Weldiya, Amhara. Kota itu berada di salah satu dari sedikit jalur yang dapat digunakan untuk menuju ibu kota Ethiopia.

Wakil Presiden TPLF Amanuel Assefa membenarkan pasukan Tigray bertempur bersama kelompok bersenjata lokal di Afar dan Amhara. “Kami sekarang berada dalam situasi perang besar-besaran,” katanya kepada AFP.

Warga mulai menimbun kebutuhan pokok

Ketegangan militer segera berdampak pada kehidupan warga. Di Tigray, penduduk mulai menimbun makanan dan uang tunai karena khawatir wilayah tersebut kembali terkepung seperti pada perang sebelumnya.

Kondisi serupa terjadi di Adigrat, kota yang berada dekat perbatasan Eritrea. Seorang warga mengatakan kepada Reuters bahwa kepanikan belanja membuat rak-rak toko mulai kosong. “Kelangkaan makanan semakin memburuk karena rak-rak pasar kosong … Obat-obatan penting tetap langka dan harganya sangat mahal,” ujarnya. “Bertahan hidup setiap hari telah menjadi perhitungan yang terus-menerus.”

Militer Ethiopia pada Kamis untuk pertama kalinya memberikan pernyataan terbuka mengenai pertempuran terbaru. Angkatan bersenjata mengklaim telah menggagalkan serangan serta membunuh, melukai, atau menangkap lebih dari 500 pejuang lawan. Kedua pihak saling menuding sebagai pemicu kembalinya pertempuran terbuka.

Perubahan peta aliansi dan seruan deeskalasi

Para analis menilai TPLF mendapat dukungan Eritrea, negara tetangga sekaligus rival lama Ethiopia. Eritrea disebut khawatir Ethiopia, yang tidak memiliki akses langsung ke laut, sedang merencanakan invasi untuk memperoleh akses ke Laut Merah. Namun, Assefa mengatakan TPLF tidak mengetahui rencana Eritrea dan belum akan meminta campur tangan negara tersebut.

Perubahan ini membalik peta aliansi pada perang 2020-2022. Saat itu, Eritrea dan Fano—kelompok pemberontak yang kini masuk aliansi baru—bertempur bersama pemerintah Ethiopia melawan TPLF. Juru bicara Abiy, Billene Seyoum, menuduh anggota aliansi tersebut telah lama bekerja sama dengan dukungan pendanaan Eritrea. Pemerintah Eritrea berulang kali membantah tuduhan serupa.

Presiden Ethiopia Taye Atske-Selassie Amde, dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada Rabu, mengecam “kekuatan penghancuran dan kekacauan” serta “campur tangan dalam urusan dalam negeri kami oleh pihak-pihak yang bermusuhan”. Ia juga mengatakan Ethiopia telah menunjukkan “pengendalian diri yang luar biasa”.

Konflik terbaru menjadi tantangan paling serius terhadap Kesepakatan Pretoria 2022, yang mengakhiri perang dan sempat menjaga situasi relatif tenang. Ketua Uni Afrika Mahmoud Ali Youssouf menyerukan “pengendalian diri semaksimal mungkin” dan dimulainya kembali perundingan langsung. Uni Eropa turut meminta “deeskalasi segera” serta komitmen kembali pada kesepakatan tersebut.

Source link