PHR Produsen Minyak Terbesar, Perkuat Ketahanan Energi Nasional

by -43 Views

Ketahanan energi nasional tidak cukup ditopang oleh peningkatan produksi minyak dan gas. Indonesia juga perlu menjaga kinerja lapangan yang sudah beroperasi, menemukan sumber produksi baru, memperkuat cadangan penyangga, serta mengembangkan energi nonfosil.

Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Eviyanti Rofraida mengatakan, perusahaan memiliki posisi strategis dalam agenda tersebut. PHR merupakan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dengan produksi terbesar. Jika seluruh produksi PHR Regional 1 dihitung, kontribusinya mencapai hampir sepertiga produksi migas nasional.

“PHR itu KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) dengan produksi terbesar. Kalau total produksi seluruh PHR Regional 1, hampir sepertiga produksi migas nasional. Itu menggambarkan betapa strategisnya posisi PHR,” kata Eviyanti dalam Sosialisasi Kebijakan Energi, Akselerasi Kapasitas Publik dalam Pemahaman Kebijakan Energi Nasional dan Isu Strategis serta Cadangan Energi Nasional di Kampus Universitas Jambi, dikutip dari keterangan resmi, Rabu (23/9/2026).

Menahan penurunan produksi lapangan tua

Peran PHR menjadi semakin penting di tengah kebutuhan energi yang terus berkembang dan penurunan produksi alamiah dari lapangan-lapangan migas yang telah berusia matang. Untuk merespons kondisi itu, perusahaan menjalankan strategi berlapis, mulai dari mempertahankan produksi dasar lapangan yang sudah beroperasi hingga mengeksplorasi sumber daya baru.

Eviyanti menjelaskan, langkah awal yang dilakukan adalah menjaga agar penurunan produksi atau decline dari lapangan eksisting tetap rendah. Setelah itu, upaya diperkuat melalui pencarian sumber produksi baru dan pemanfaatan teknologi untuk meningkatkan perolehan migas.

“Yang utamanya adalah me-maintain baseline, bagaimana yang sudah ada ini kalaupun turun, decline-nya tidak jauh. Kalau bisa kita maintain tidak turun, kalaupun turun sedikit,” ujarnya.

PHR juga mengevaluasi potensi berdasarkan data yang tersedia dan melakukan eksplorasi untuk menemukan sumber daya yang dapat dikembangkan menjadi produksi. Di Jambi, proyek Puspa Asri menjadi salah satu proyek yang mendapat perhatian karena diproyeksikan memberikan tambahan produksi bagi Pertamina EP Jambi.

Menurut Eviyanti, keberlanjutan kegiatan operasi, eksplorasi, dan pengembangan wilayah baru memerlukan dukungan pemerintah daerah serta perguruan tinggi. Kolaborasi lintas pemangku kepentingan dinilai penting agar pengembangan energi berlangsung aman dan berkelanjutan.

Produksi, diversifikasi, dan cadangan penyangga

Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi menyebut peningkatan produksi energi, baik fosil maupun nonfosil, sebagai langkah mendasar untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Untuk minyak, upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan lifting, sementara sektor gas juga perlu terus diperkuat.

Diversifikasi menjadi bagian lain dari strategi itu. Pengembangan biodiesel diharapkan mengurangi ketergantungan pada impor solar, sedangkan etanol didorong sebagai alternatif untuk kebutuhan bensin. Namun, rencana penerapan B50 harus disertai kesiapan kapasitas produksi dan ketersediaan bahan baku.

“Tantangannya masih sangat besar. Produksi kita terus naik, tetapi jangan sampai kemudian B50 ini kekurangan feedstock. Kita harus memastikan target produksi untuk menopang B50 itu cukup,” kata Kholid.

DEN juga mendorong pembentukan cadangan penyangga energi yang berbeda dari cadangan operasional badan usaha. Targetnya, cadangan tersebut setara dengan kebutuhan impor selama 30 hari dan dicapai hingga 2035. Sebelum mencapai target itu, cadangan diharapkan dapat dibangun bertahap, mulai dari lima hingga 10 hari. Dalam kondisi ideal, cadangan tersebut bahkan dapat mencapai 60 sampai 90 hari.

Kholid menilai Jambi memiliki posisi strategis karena menyimpan sumber energi berupa minyak dan gas bumi, batu bara, biomassa, serta komoditas perkebunan yang dapat menjadi bahan baku energi. Namun, daerah penghasil energi juga harus memastikan kebutuhan energinya sendiri terpenuhi.

Peran riset perguruan tinggi

Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Jambi Hafrida mengatakan perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian, pengembangan sumber daya manusia, dan pusat studi. Menurutnya, kerja sama dengan pemangku kepentingan energi diperlukan agar riset yang dihasilkan menjawab kebutuhan nyata industri dan pemerintah.

“Perguruan tinggi punya fungsi terutama penelitian. Kolaborasi dengan perguruan tinggi merupakan satu strategi yang cukup penting dalam rangka mewujudkan kebutuhan-kebutuhan energi,” ujar Hafrida.

Universitas Jambi memiliki Fakultas Sains dan Teknologi serta sejumlah pusat studi yang dapat dikembangkan untuk mendukung kajian energi, termasuk kebutuhan penguatan produksi dan keberlanjutan energi di daerah.

Source link