Suahasil Ungkap 3 Sinyal Ekonomi RI Bergerak di Kuartal III-2026

by -73 Views

Aktivitas ekonomi Indonesia menunjukkan tanda pemulihan pada akhir kuartal III-2026. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyoroti tiga indikator utama yang mendukung gambaran tersebut, yakni kembalinya Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur ke zona ekspansif, inflasi yang tetap berada dalam sasaran, serta neraca perdagangan yang masih surplus.

“Pertama adalah PMI, angka PMI kita akhir September tercatat menjadi 52. Dan ini berarti kembali ke zona ekspansif, setelah bulan sebelumnya itu di 49. Jadi ini tanda perekonomian kita bergerak,” kata Suahasil, Kamis (1/10/2026).

PMI manufaktur kembali ekspansif

Data S&P Global mencatat PMI manufaktur Indonesia pada September 2026 berada di level 52,4. Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi Agustus yang mencapai 49,8. Dalam indikator PMI, level di atas 50 menandakan sektor manufaktur berada dalam fase ekspansi, sedangkan posisi di bawah 50 menunjukkan kontraksi.

Level PMI pada September juga menjadi yang tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Kenaikan ini menjadi salah satu dasar bagi Suahasil untuk menilai bahwa kegiatan ekonomi mulai kembali bergerak setelah pada bulan sebelumnya aktivitas manufaktur masih berada di zona kontraksi.

Inflasi tetap dalam sasaran pemerintah

Pergerakan sektor manufaktur tersebut berlangsung ketika tekanan harga masih dinilai terkendali. Suahasil menyebut inflasi pada September berada di level 3,28 persen secara tahunan.

“Inflasi juga keluar angka yang cukup baik, 3,28%. Yang berarti bahwa gerak ekonomi terjadi. 3,28% itu ada di dalam range 2,5% plus minus 1,” ujarnya.

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) September 2026 sebesar 3,28 persen secara tahunan. Secara bulanan, inflasi tercatat 0,30 persen, sedangkan inflasi tahun kalender mencapai 2,17 persen.

Menurut Suahasil, inflasi yang terjaga diharapkan dapat menjadi sinyal bagi pelaku usaha untuk melanjutkan dan meningkatkan produksi. Ia mengaitkan kondisi tersebut dengan peluang bertambahnya produksi barang dan jasa, yang pada akhirnya dapat mendukung pertumbuhan ekonomi.

“Jadi perekonomiannya terjaga, inflasi terjaga, malah inflasinya ini kita harapkan nanti memberikan signal kepada dunia usaha untuk melanjutkan proses produksi,” kata dia.

Ia menambahkan, peningkatan aktivitas manufaktur dan inflasi yang terkendali dapat berjalan bersamaan. “Bersama-sama dengan PMI melanjutkan proses produksi, memproduksi barang dan jasa yang lebih banyak, menumbuhkan ekonomi,” imbuhnya.

Surplus perdagangan masih berlanjut

Indikator ketiga yang disampaikan Suahasil adalah kinerja perdagangan luar negeri. Ia menyebut neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2026 tetap mencatat surplus sekitar US$3,5 miliar.

“Kita juga lihat statistik lain yaitu trade balance yang juga positif di US$ 3,5 billion,” kata Suahasil.

BPS mencatat surplus neraca perdagangan pada Agustus 2026 sebesar US$3,55 miliar. Dengan capaian tersebut, neraca perdagangan Indonesia secara kumulatif sepanjang Januari hingga Agustus 2026 masih membukukan surplus US$7,25 miliar.

Source link