Industri baja di Indonesia memainkan peran kunci dalam mendukung pembangunan strategis menuju tahun 2045, demikian disampaikan dalam diskusi ISSEI 2025 yang baru-baru ini diselenggarakan. Sektor logam dasar ini tidak hanya penting dari sisi ekonomi, tetapi juga dalam hal ketahanan nasional. Data dari Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa industri logam dasar saat ini menyumbang lebih dari 11% dari total PDB sektor industri pengolahan nonmigas, dengan pertumbuhan tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Industri logam dasar juga menjadi primadona bagi investor, dengan nilai investasi yang menonjol sepanjang tahun lalu. Sektor baja mulai diakui sebagai bagian penting dari infrastruktur nasional yang strategis. Dalam upaya untuk memperkuat industri baja, Kementerian Perindustrian telah menetapkan lima arah kebijakan yang mencakup berbagai aspek mulai dari pengendalian impor hingga insentif fiskal, serta peningkatan tingkat komponen dalam negeri.
Namun, sektor baja juga dihadapkan pada sejumlah tantangan, termasuk keberlanjutan dan transformasi hijau. Untuk mengatasi hal ini, pemerintah telah mulai menerapkan berbagai langkah, seperti mengurangi emisi karbon dan meningkatkan efisiensi energi. Dengan upaya bersama dari pemerintah, pelaku industri, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, diharapkan industri baja Indonesia dapat terus berkembang serta menjadi pemain utama dalam pasar ekspor baja.
Event ISSEI 2025 menjadi momentum penting bagi industri baja Indonesia untuk mengeksplorasi peluang kolaborasi antarnegara ASEAN dan membangun ekosistem baja yang tangguh serta berkelanjutan. Industri baja bukan hanya tentang bahan mentah, tetapi juga tentang kemampuan suatu bangsa untuk bersaing secara global. Melalui berbagai inisiatif dan kebijakan cerdas, industri baja Indonesia diharapkan dapat memainkan peran yang lebih besar dalam ekonomi regional dan global.





