Broto Wardoyo: Indonesia Harus Tingkatkan Ketahanan Siber

by -188 Views

Transformasi ancaman terhadap keamanan suatu negara kini terjadi secara masif berkat kemajuan teknologi digital. Jika dulunya keamanan identik dengan kekuatan militer di lapangan, saat ini perturbasi di dunia maya menjadi faktor yang semakin dominan dan sulit dikendalikan. Ruang siber memungkinkan terjadinya intervensi yang tidak kasat mata, di mana penyebaran informasi palsu dan manipulasi opini publik bisa dilakukan secara luas dan sangat cepat.

Dalam realitas ini, serangan siber tidak lagi sekadar wacana atau kemungkinan, melainkan telah menjadi ancaman aktual yang mampu menembus batas-batas sebuah negara tanpa perlu ada invasi fisik. Serangan siber bahkan berpeluang besar untuk mengganggu tatanan demokrasi dan proses politik suatu negara dengan cara yang sama destruktifnya seperti serangan konvensional.

Fenomena pemilu di Romania pada 2024 menjadi contoh konkret bagaimana dunia maya bisa digunakan sebagai alat utama rekayasa politik. Calin Georgescu, kandidat yang sebelumnya kurang dikenal, mendadak naik daun berkat peranan media sosial yang dikerahkan secara sistematis dan masif. Lonjakan popularitas tersebut bukan hasil kerja kampanye tradisional, melainkan didorong oleh ribuan akun palsu yang beroperasi di aneka platform digital seperti TikTok, Facebook, dan Telegram.

Narasi-narasi yang dilempar ke publik pun mengangkat isu-isu yang sensitif, seperti sentimen nasionalis, agama, serta anti-Barat. Isu-isu itu lalu diperkuat lewat penyebaran berita dari media luar negeri yang selama ini dikenal punya kepentingan khusus. Namun setelah ditelusuri lebih dalam, ditemukan fakta bahwa mayoritas konten kampanye digital ternyata dibuat oleh pihak lokal, meski ada juga andil influencer internasional serta jaringan iklan luar negeri, misalnya dari London. Ini menandakan bahwa bentuk ancaman digital saat ini merupakan hasil kolaborasi antara aktor domestik dan luar negeri secara terorganisir.

Broto Wardoyo, Kepala Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, menyoroti bahwa kombinasi pelaku dalam dan luar negeri membuat ranah ancaman menjadi semakin samar. Ia mengatakan, tak jarang serangan siber sebenarnya merupakan kerjasama antara pelaku luar dengan pihak dalam negeri sehingga sulit membedakan mana ancaman asli dari luar dan mana yang tumbuh dari dalam. Kondisi ini diperparah dengan pesatnya arus informasi di internet, sehingga masyarakat menjadi target utama untuk dipolarisasi dan diarahkan tafsir politiknya.

Pengalaman Romania, menurut Broto, seharusnya memberi alarm waspada bagi negara-negara dengan basis demokrasi yang kuat. Serangan lewat manipulasi siber bisa mengubah situasi politik nasional tanpa pernah sekalipun ada tentara asing yang benar-benar hadir. Dengan teknik digital, kepercayaan masyarakat pada pemilu dapat dikikis dan konflik sosial bisa diperparah melalui propaganda terkoordinasi.

Bagi Indonesia, pembelajaran dari Eropa Timur tersebut sangat relevan. Negara ini menempati posisi pengguna internet terbesar di kawasan, dan arena politiknya kini banyak ditentukan di dunia maya. Polarisasi yang sudah terbentuk sejak beberapa waktu terakhir dapat makin tajam jika operasi informasi asing mendapat saluran melalui pelaku lokal.

Ketika jaringan bot, influencer, dan strategi iklan digital bersatu dalam menanamkan narasi-narasi tertentu ke tengah masyarakat, ancaman terhadap integritas politik dan sosial tidak bisa lagi dianggap remeh. Masyarakat makin sulit memilah kebenaran dan kepentingan di balik informasi yang mereka terima sehari-hari.

Kisah Romania seharusnya dilihat sebagai peringatan nyata bagi Indonesia. Negara yang secara demokratis sudah mapan pun bisa goyah oleh gelombang rekayasa digital yang canggih. Risiko serupa sangat mungkin menimpa Indonesia jika ketahanan siber nasional tidak segera dibenahi dan literasi digital warga tidak diperkuat. Sebagai langkah antisipatif, perlu upaya bersama dari pemerintah, akademisi, dan masyarakat luas untuk membangun pemahaman serta daya tahan terhadap manipulasi informasi siber agar stabilitas bangsa tetap terjaga.

Sumber: Ancaman Siber Global Dan Ketahanan Siber Indonesia: Belajar Dari Kasus Pemilu Romania
Sumber: Ancaman Siber Global: Pelajaran Dari Kasus Pemilu Romania Bagi Ketahanan Siber Indonesia