Jakarta – Kepolisian berhasil mengidentifikasi pelaku yang masuk atau memiliki kontak dengan ruangan yang diduga sebagai tempat penyimpanan senjata di sebuah sekolah di Jakarta Selatan melalui sampel tes DNA. Tindakan ini dilakukan sebagai bagian dari upaya penyelidikan dalam kasus tersebut.
Sampel DNA untuk Identifikasi Pelaku
Kanit Krimum Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Ipda Alpino de Tech, menyatakan bahwa DNA dari tiga ruangan di sekolah telah diambil untuk mengecek siapa yang masuk atau berkontaminasi di dalam ruangan tersebut. Tiga ruangan yang menjadi fokus penyelidikan adalah ruangan eks Ketua Pengurus Yayasan, ruangan Sekretaris, dan ruangan Sarana Prasarana yayasan sekolah.
Alpino menjelaskan bahwa proses pengambilan sampel DNA ini penting untuk mengidentifikasi pihak yang terlibat atau terkontaminasi dengan senjata yang disimpan di ruangan tersebut. Meskipun sebelumnya disebut sebagai bunker, namun Alpino menegaskan bahwa ruangan tersebut sebenarnya adalah basement yang terhubung dengan ruangan lainnya.
Pemeriksaan Ruangan dan CCTV
Selain pengambilan sampel DNA, pihak kepolisian juga telah memeriksa bagian basement tersebut untuk memastikan tidak adanya temuan lain yang relevan. Hasil pemeriksaan juga mengungkap bahwa tidak terdapat kamera CCTV di area tersebut, sehingga pengumpulan bukti menjadi lebih meluas.
Setelah proses pemeriksaan selesai, yayasan yang terkait diperbolehkan kembali menjalankan aktivitas di sekolah setelah pihak kepolisian menyatakan bahwa ruangan tersebut steril. Ini menunjukkan bahwa proses penyelidikan telah selesai dilakukan dan aktivitas sekolah dapat berjalan seperti biasa.
Olah Tempat Kejadian Perkara
Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri melakukan pengambilan sebanyak 30 item dari lokasi kejadian di sekolah yang memiliki temuan senjata airsoft gun di Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari proses penyelidikan yang lebih mendalam terkait kasus tersebut.





