Eks Diplomat Ungkap Kesalahan Fatal Amerika Setelah 9/11

by -70 Views

Mantan Diplomat AS Beberkan Kesalahan Fatal Pascatragedi 9/11

Jakarta, CNBC Indonesia – Zalmay Khalilzad, mantan diplomat Amerika Serikat (AS), mengungkapkan sejumlah kesalahan fatal yang dilakukan negaranya setelah tragedi 11 September 2001 (9/11), termasuk invasi ke Afghanistan dan Irak.

Menurut Khalilzad, publik AS saat itu dipenuhi kemarahan dan ketakutan yang memaksa pemerintah AS untuk mengambil keputusan gegabah yang berdampak besar pada geopolitik global.

Kemarahan dan Tindakan Berujung pada Keputusan Gegabah

Tragedi 9/11 adalah serangan asing paling mematikan dalam sejarah AS, di mana hampir 3.000 orang tewas akibat aksi pembajakan pesawat yang menabrakkan ke gedung penting di AS. Kurang dari sebulan setelahnya, AS melancarkan invasi ke Afghanistan untuk memburu al-Qaeda, yang memicu perang panjang selama hampir dua dekade.

Menurut Khalilzad, keputusan AS untuk menolak bernegosiasi dengan Taliban pada awal perang Afghanistan merupakan kesalahan fatal. Padahal, Taliban pada saat itu bersedia untuk berunding.

Miskalkulasi Intelijen dalam Perang dengan Irak

Terkait invasi ke Irak pada tahun 2003, AS melancarkan operasi terpisah dengan dalih ‘perang melawan teror’. Pemerintahan Bush saat itu menggunakan informasi palsu terkait senjata pemusnah massal Irak untuk membenarkan perang selama delapan tahun yang berujung pada penggulingan Saddam Hussein.

Khalilzad menilai bahwa miskalkulasi intelijen terjadi dalam perang Irak, di mana AS sangat paranoid akan kemungkinan serangan lain ala 9/11 dan tidak mempercayai pernyataan Irak tentang ketiadaan senjata pemusnah massal.

Penarikan Mundur Pasukan dan Kembalinya Taliban

Tentang penarikan mundur pasukan AS dari Afghanistan pada tahun 2021, Khalilzad mendukung keputusan tersebut meskipun menuai kritik. Menurutnya, ancaman teroris telah berhasil diredam sehingga AS mengubah prioritasnya.

Setelah pasukan AS pergi, pemerintahan Afghanistan runtuh dan Taliban kembali berkuasa. Ironisnya, Khalilzad melihat kembalinya Taliban sebagai sesuatu yang positif bagi AS.

Source link