Tentara Iran Seret Peti Mati Trump-Netanyahu di Pawai Akbar

by -62 Views

Teheran menggelar demonstrasi terbesar sejak perang antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel dimulai pada Februari 2026. Aksi yang berlangsung pada Jumat (18/9/2026) itu diikuti massa, personel militer, serta sejumlah pejabat tinggi Iran, termasuk Presiden Masoud Pezeshkian dan Kepala Pasukan Basij Iran, Hossein Taeb.

Pemerintah Iran menyelenggarakan pawai tersebut sebagai bentuk perlawanan setelah konflik berlangsung selama berbulan-bulan. Anggota perempuan Basij turut ambil bagian dalam pawai militer yang digelar di ibu kota. Basij merupakan sayap paramiliter dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Tekanan militer dan ekonomi

Demonstrasi itu digelar ketika Teheran menghadapi tekanan besar di bidang militer dan ekonomi. Meski berada dalam situasi tersebut, pemerintah Iran tetap menunjukkan sikap menantang dengan menghambat pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi lalu lintas energi. Gangguan di kawasan tersebut menambah kekhawatiran terhadap kelancaran pasokan minyak dunia, terutama ketika konflik juga memengaruhi jalur strategis lain di kawasan.

Iran disebut memperoleh posisi tawar baru setelah kelompok Houthi di Yaman, yang merupakan sekutunya, memperketat kendali atas jalur pelayaran strategis di Laut Merah. Perkembangan itu turut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global dan mendorong kenaikan harga minyak.

Konflik memasuki bulan keenam

Konflik antara Iran dan AS masih berlangsung setelah enam bulan perang, dengan pola perang atrisi yang menguras kekuatan kedua pihak. Sejumlah periode eskalasi kembali meningkatkan ketegangan, sementara dampaknya meluas ke jalur distribusi minyak di kawasan.

Dalam aksi di Teheran, sejumlah peserta membawa spanduk bertuliskan “We Will Kill” atau “Kita akan Membunuh”, disertai gambar Presiden AS Donald Trump. Personel militer juga terlihat menginjak dan menyeret peti mati bergambar Trump serta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Meluasnya konflik hingga Yaman dan Arab Saudi memicu kekhawatiran baru terhadap distribusi minyak dunia. Ancaman terhadap jalur alternatif Laut Merah bagi ekspor negara-negara Teluk muncul ketika lalu lintas energi melalui Selat Hormuz masih mengalami gangguan.

Kehadiran Pezeshkian bersama pejabat senior dan penyelenggaraan pawai dalam skala besar memperlihatkan pesan perlawanan yang ingin disampaikan pemerintah Iran di tengah tekanan konflik. Pada saat yang sama, gangguan di dua jalur pelayaran utama tersebut terus menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi pasokan energi dan harga minyak global.

Source link