Senjata Makan Tuan: Krisis Baru Sengsarakan Warga Israel

by -53 Views

Israel menghadapi tekanan baru pada pasokan air setelah ledakan populasi mikroalga di Laut Mediterania menyumbat sistem penyaring di lima dari enam fasilitas desalinasi utamanya. Gangguan itu membuat kelima fasilitas tersebut berhenti beroperasi selama beberapa hari dan hingga kini belum sepenuhnya kembali ke kapasitas normal.

Fenomena yang membentang sekitar 60 mil atau 100 kilometer itu dikaitkan para ilmuwan dengan meningkatnya aliran limbah tanpa pengolahan dari Jalur Gaza. Kerusakan fasilitas pengolahan air limbah di Gaza akibat perang membuat limbah dalam jumlah besar mengalir ke laut, membawa nutrisi seperti nitrogen dan fosfor yang dapat memicu pertumbuhan mikroalga serta sianobakteri.

Limbah Gaza mengancam fasilitas desalinasi

Asosiasi Lingkungan Zalul, organisasi nonpemerintah Israel yang berfokus pada perlindungan laut dan pesisir, mengatakan pencemaran tidak berhenti di batas wilayah politik. “Pencemaran tidak mengenal batas politik,” kata Zalul, dilansir The Guardian, Kamis (24/9/2026).

Menurut Zalul, pembuangan limbah dari Gaza berkontribusi terhadap memburuknya kondisi yang kini berdampak pada fasilitas desalinasi Israel. Organisasi itu memperingatkan bahwa jika pencemaran berlanjut, dampaknya dapat meluas ke seluruh Israel.

Jack Gilron, profesor emeritus dan pakar desalinasi di Zuckerberg Institute for Water Research, Ben-Gurion University, mengatakan aliran limbah dari Gaza meningkatkan risiko bagi sistem produksi air Israel di sepanjang pesisir selatan Mediterania. “Insiden saat ini semakin menegaskan perlunya persiapan menghadapi ancaman terhadap salah satu sumber utama air minum Israel,” ujarnya.

Otoritas Israel kini meminta masyarakat menghemat penggunaan air hingga fasilitas desalinasi pulih. Pasokan air di wilayah selatan telah dikurangi, sedangkan petani diminta menghentikan irigasi. Para ekonom memperkirakan kebijakan tersebut dapat mendorong kenaikan harga pangan.

Krisis air dan sanitasi di Gaza

Gangguan di Israel berlangsung ketika Gaza masih mengalami krisis air dan sanitasi, meskipun gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat telah berlangsung sejak tahun lalu. Dampak perang yang hampir tiga tahun, menurut para ahli, mulai kembali terasa di wilayah Israel melalui pencemaran laut dan gangguan ekosistem pesisir.

Laporan Médecins Sans Frontières (MSF) menyebut sekitar 90 persen infrastruktur air dan sanitasi Gaza hancur sejak bombardir Israel dimulai pada 7 Oktober 2023. Sumur, jaringan pipa, waduk, dan unit desalinasi termasuk fasilitas yang terdampak serangan.

Sebelum perang, sekitar 80 persen kebutuhan air Gaza dipenuhi dari akuifer di bawah kawasan pesisir. Kini, sumber tersebut tercemar air laut dan limbah sehingga tidak lagi layak dikonsumsi. Pasokan lain sebelumnya berasal dari fasilitas desalinasi serta tiga jaringan pipa yang berada di bawah kendali otoritas air Israel. Jaringan itu diputus pada awal perang dan baru sebagian yang kembali beroperasi.

Kerusakan distribusi membuat sebagian besar penduduk bergantung pada truk tangki. Banyak warga harus memilih antara menggunakan air untuk minum atau menyimpannya untuk mencuci tangan dan mencegah penyakit. Diare akut menjadi salah satu penyebab utama penyakit di wilayah tersebut.

Limbah, tikus, dan ancaman kesehatan

Omar Shatat, wakil direktur eksekutif Coastal Municipalities Water Utility di Gaza, mengatakan seluruh lima fasilitas pengolahan air limbah di wilayah itu tidak beroperasi. Sekitar 45.000 meter kubik limbah tanpa pengolahan diperkirakan mengalir ke Laut Mediterania setiap hari. Sebanyak 15.000 meter kubik limbah mentah lainnya meresap ke air tanah melalui lubang resapan, terutama di kamp-kamp informal al-Mawasi.

“Ini merupakan situasi yang sangat buruk dari sisi lingkungan maupun kesehatan masyarakat,” kata Shatat. Pat Griffiths, juru bicara Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Kota Gaza, memperingatkan kondisi dapat memburuk saat musim dingin tiba.

Tumpukan sampah dan limbah juga memicu ledakan populasi tikus di kamp-kamp pengungsian. Serangan hama serupa mulai dirasakan warga Israel di dekat perbatasan Gaza, dengan tikus masuk ke rumah dan memenuhi kebun. Zalul menegaskan, “Ketika lingkungan laut tercemar, manusia dan alam sama-sama menderita. Terlepas dari sisi perbatasan mana mereka berada.”

Source link