Indonesia Kalahkan China soal Olahan Nikel, Ini Buktinya

by -45 Views

Indonesia kini menjadi produsen nikel olahan terbesar di dunia setelah produksinya meningkat lebih dari 60 kali lipat dalam kurun 2014-2023. Kenaikan tersebut mendorong pangsa produksi nikel olahan Indonesia dari sekitar 1 persen menjadi 41 persen dari total produksi global, sekaligus menempatkan Indonesia di atas China.

Produksi melonjak sejak larangan ekspor bijih mentah

Data Our World in Data menunjukkan, produksi nikel olahan Indonesia bertambah dari sekitar 22.000 ton pada 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada 2023. Lembaga riset tersebut menyebut lonjakan itu berkaitan dengan kebijakan pemerintah yang melarang ekspor bijih nikel mentah sejak sekitar satu dekade lalu.

Kebijakan itu mewajibkan pelaku industri mengolah dan memurnikan nikel di dalam negeri sebelum komoditas tersebut dipasarkan. Dengan begitu, nikel tidak lagi hanya dikirim keluar dalam bentuk bijih, melainkan diproses melalui fasilitas pengolahan dan pemurnian di Indonesia.

“Produksi Indonesia meningkat lebih dari 60 kali lipat, dari sekitar 22.000 ton pada tahun 2014 menjadi lebih dari 1,4 juta ton pada tahun 2023,” tulis laporan Our World in Data, dikutip Selasa (29/9/2026).

Pertumbuhan itu mengubah pola industri pertambangan Indonesia yang selama hampir empat dekade lebih banyak berfokus pada aktivitas penambangan tanpa pengolahan lanjutan. Indonesia sebelumnya memang memiliki cadangan nikel terbesar di dunia, tetapi kapasitas pengolahan mandirinya masih terbatas.

Melampaui China sejak 2021

Indonesia mulai mencatatkan produksi nikel olahan lebih tinggi daripada China pada 2021. Sejak saat itu, jarak produksi Indonesia dengan China disebut semakin lebar. Selain China, Indonesia juga berada di atas Rusia, Jepang, dan Kanada dalam produksi nikel olahan.

“Pada tahun 2021, Indonesia menyalip Tiongkok untuk menjadi produsen terbesar di dunia dan sekarang jauh di depan. Tetapi sebagian besar dari pertumbuhan itu melibatkan modal Cina,” tulis Our World in Data.

Status sebagai pemimpin produksi global tersebut belum sepenuhnya mencerminkan kemandirian modal industri nikel Indonesia. Ekspansi smelter dan fasilitas pemurnian di dalam negeri masih banyak ditopang investasi asing.

Laporan Badan Energi Internasional (IEA) menyebut sebagian besar kepemilikan aset smelter dan fasilitas pemurnian nikel di Indonesia saat ini berada di tangan perusahaan-perusahaan asal Tiongkok. Artinya, peningkatan kapasitas pengolahan berlangsung seiring dengan kuatnya keterlibatan modal China dalam pembangunan dan kepemilikan fasilitas industri tersebut.

Source link