KTM langsung mengubah peta persaingan pada hari pertama MotoGP Austria. Pedro Acosta menjadi pembalap tercepat dalam sesi Practice di Red Bull Ring, sementara Ducati harus bekerja lebih keras untuk menandingi kecepatan tim tuan rumah yang tampil kuat di hadapan publiknya sendiri.
Hasil tersebut menjadi penyegar di tengah persaingan yang belakangan lebih banyak diwarnai duel Ducati dan Aprilia. Namun, performa pada Jumat belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Ducati berada dalam masalah. Marc Marquez, yang kerap dikenal tidak langsung mengejar catatan waktu terbaik pada awal akhir pekan, tetap menunjukkan sejumlah tanda positif.
Kecepatan lomba Marc Marquez menjanjikan
Marquez menempati posisi keempat pada sesi pagi maupun sore. Pada pagi hari, ia menggunakan ban belakang medium yang sama sepanjang sesi. Putaran tercepatnya baru muncul pada lap ke-14, berbeda dari Acosta yang mencatat waktu terbaik pada lap kelima. Suhu yang masih rendah membuat keausan ban belum menjadi faktor besar sehingga perbedaan tersebut sulit dijadikan patokan.
Sesi sore berlangsung dalam kondisi yang lebih mendekati perkiraan saat balapan utama pada Minggu. Marquez tetap menggunakan ban belakang lunak dalam waktu cukup lama. Bahkan setelah menyelesaikan 17 lap, ia masih mampu membukukan waktu 1 menit 29,812 detik. Catatan itu hanya sekitar tiga persepuluh detik lebih lambat dari rekor lap balapan sepanjang masa yang dibuat Francesco Bagnaia pada 2024.
Catatan tersebut terlihat semakin berarti karena waktu tercepat Acosta dalam Practice masih terpaut enam persepuluh detik dari pole position 2024. Artinya, Marquez berpotensi memiliki kecepatan balapan yang kuat. Kendati demikian, ia kehilangan cukup banyak waktu pada sektor kecepatan maksimum, bahkan dibandingkan beberapa pembalap Ducati lain. Kekurangan itu dapat menjadi persoalan saat kualifikasi jika ia ingin memulai balapan dari posisi yang cukup baik untuk memanfaatkan ritmenya.
Aldeguer dan Ducati lain ikut mencuri perhatian
Fermin Aldeguer dari Gresini menjadi pembalap Ducati terdepan pada Jumat. Penampilannya tidak sepenuhnya mengejutkan karena ia dikenal mampu memaksimalkan konstruksi ban Michelin khusus yang digunakan akhir pekan ini. Ban tersebut hanya dipakai di Thailand, Indonesia, Brasil, dan Austria. Aldeguer pernah memenangi satu-satunya grand prix dalam kariernya di Indonesia musim lalu dan juga memberi tekanan kepada Marquez dalam balapan Austria tahun lalu.
“Di antara semua pembalap Ducati, biasanya saya yang paling baik menggunakan ban ini karena saya membawa banyak kecepatan di tengah tikungan dan tidak banyak menggunakan gas untuk berbelok serta keluar tikungan. Rasanya seperti ketika menggunakan ban yang sudah terpakai,” kata Aldeguer.
Fabio Di Giannantonio juga menutup sesi dengan hasil positif di posisi keenam, meski mengaku pernah kesulitan di Red Bull Ring. Setelah beberapa balapan diwarnai pembahasan mengenai pilihan paket aerodinamika, ia memastikan telah berkomitmen penuh pada paket GP26 untuk akhir pekan ini.
“Kami harus memberikan kesempatan kepada GP26 untuk melihat apakah bisa mendapatkan sesuatu dan menjadi yang terbaik,” ujar Di Giannantonio. Ia mengingatkan bahwa paket aerodinamika 2026 telah membantunya tampil baik musim ini, termasuk saat memenangi balapan di Barcelona.
Franco Morbidelli dan Bagnaia masih kesulitan mengikuti laju terdepan. Alex Marquez juga mengalami masalah ketika fairing motornya terlepas dan remnya macet hingga membuatnya terjatuh saat motor melaju lurus. Meski begitu, ia tetap lolos langsung ke Q2, sebuah indikasi bahwa kecepatannya masih dapat berkembang.
Marquez menilai Acosta memang layak menjadi pusat perhatian KTM di Austria. “Pedro memberikan sesuatu yang ekstra untuk KTM. Saat ini, dia yang paling cepat,” katanya. Ketika ditanya apakah Acosta berada dalam persaingan kejuaraan, Marquez menjawab tegas, “Dia ada dalam kejuaraan.” Jawaban di lintasan pada sesi kualifikasi dan balapan akan menentukan apakah KTM mampu mempertahankan keunggulan tersebut atau Ducati kembali mengambil kendali.





