Yamaha memilih Jorge Martin sebagai tumpuan program mesin 850cc setelah Paolo Pavesio menilai sang pebalap memiliki kemauan untuk membantu pabrikan Jepang itu bangkit dari keterpurukan. Keputusan tersebut diambil ketika Yamaha sedang menghadapi perubahan besar dan akan kehilangan Fabio Quartararo pada akhir kontraknya.
Quartararo, pebalap utama Yamaha, telah memutuskan bergabung dengan Honda. Situasi itu mendorong Yamaha mencari pengganti yang dianggap mampu memimpin proyek baru mereka. Bagi Pavesio, Martin bukan hanya memiliki kecepatan, tetapi juga menunjukkan ketertarikan terhadap tantangan membangun kembali daya saing Yamaha di MotoGP.
Martin dinilai memahami tantangan Yamaha
Yamaha masih berada dalam fase pembangunan ulang setelah meninggalkan konsep mesin empat silinder segaris dan beralih ke mesin V4. Di tengah kondisi tersebut, Pavesio menginginkan pebalap yang bersedia terlibat dalam proses panjang untuk mengembalikan Yamaha sebagai kekuatan kompetitif.
“Jorge membuat kami merasa diinginkan. Saya menginginkan seseorang yang bisa diajak transparan mengenai proyek ini, tetapi juga seseorang yang ingin datang ke perusahaan yang saat ini kesulitan dalam hal performa, namun berinvestasi besar dan memiliki sejarah hebat,” kata Pavesio kepada Motorsport.com Italia.
Pavesio mengakui sejarah tidak otomatis menjamin kesuksesan Yamaha pada masa depan. Namun, ia melihat Martin memiliki motivasi khusus karena berpeluang menambah namanya ke dalam daftar pebalap yang pernah membawa Yamaha menjadi juara dunia kelas premier.
“Bagi seorang pebalap yang sudah pernah memenangi gelar, jika dia mampu melakukannya bersama kami, dia akan menempatkan dirinya dalam daftar itu,” ujar Pavesio.
Yamaha sebelumnya telah meraih kesuksesan bersama Quartararo, termasuk ketika pebalap Prancis tersebut merebut gelar MotoGP 2021. Akan tetapi, hubungan keduanya kemudian menegang seiring performa motor M1 yang perlahan turun dalam persaingan.
Perjudian bagi Yamaha dan Martin
Martin akan bergabung dengan Yamaha pada musim 2027, meninggalkan Aprilia untuk menuju pabrikan yang saat ini berada di dasar klasemen. Kepindahan itu dinilai sebagai perjudian bagi kedua pihak, mengingat Yamaha masih berjuang membangun motor yang kompetitif, sementara Martin meninggalkan pabrikan yang dianggap banyak pihak sebagai tolok ukur persaingan.
“Ya, itu penilaian yang adil,” kata Pavesio ketika ditanya apakah perekrutan Martin merupakan sebuah perjudian.
Meski begitu, ia meyakini Yamaha telah mendapatkan pebalap dengan rekam jejak yang kuat. Martin menjuarai MotoGP 2024 saat membela Pramac, setelah mengalahkan pebalap Ducati Francesco Bagnaia. Pramac kini menjadi bagian dari struktur tim satelit Yamaha.
Martin juga disebut hampir merebut gelar lainnya dan memiliki talenta serta kecepatan yang menempatkannya di antara empat atau lima pebalap terbaik. Setelah musim pertamanya bersama Aprilia terganggu cedera, ia mampu bangkit dan memimpin klasemen menjelang rangkaian balapan di kawasan Asia-Pasifik.
Menurut Pavesio, konsistensi Martin telah kembali, tetapi potensi puncaknya masih belum sepenuhnya terlihat karena ia pada dasarnya kehilangan satu musim akibat cedera bersama Aprilia. Keyakinan Yamaha terhadapnya turut diperkuat oleh Gino Borsoi, manajer tim Pramac, yang mengenal Martin dengan baik, termasuk sisi pribadinya di luar lintasan.





