AS Akhiri Misi Dua Dekade di Irak yang Berawal dari Invasi

by -44 Views

Amerika Serikat dijadwalkan menyelesaikan penarikan terakhir pasukannya dari Irak pada Rabu, 30 September 2026. Kepergian itu menutup lebih dari dua dekade kehadiran militer AS di negara tersebut, yang dimulai sejak invasi pada 2003.

Pasukan AS akan meninggalkan pangkalan terakhir mereka di Irak berdasarkan kesepakatan yang dicapai pada 2024 di bawah pemerintahan Presiden Joe Biden. Pelaksanaannya kemudian berlangsung di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump.

Dua dekade kehadiran militer AS

Penarikan ini menjadi penanda penting dalam sejarah modern Irak. Selama bertahun-tahun, keberadaan pasukan AS mewarnai berbagai wilayah negara itu, termasuk Baghdad dan Najaf. Sekitar 4.500 warga Amerika dilaporkan tewas sepanjang lebih dari dua dekade keterlibatan militer AS di Irak.

Salah satu simbol perubahan tersebut terlihat di Lapangan Firdos, pusat Baghdad. Pada 9 April 2003, kawasan itu menjadi lokasi robohnya patung Presiden Irak Saddam Hussein dalam peristiwa yang disaksikan langsung oleh tentara Amerika Serikat. Kini, tempat tersebut kembali digunakan sebagai ruang publik dan dipenuhi aktivitas warga.

Perubahan serupa terlihat di sekitar makam Imam Ali di Najaf. Pada 27 Agustus 2004, kendaraan lapis baja Bradley dari Divisi Kavaleri ke-1 Angkatan Darat AS terlihat menjaga jalan menuju lokasi tersebut. Lebih dari 20 tahun kemudian, warga berjalan di kawasan itu tanpa kehadiran kendaraan tempur AS.

Kekhawatiran setelah pasukan koalisi pergi

Meski penarikan pasukan segera rampung, perhatian kini beralih pada kondisi keamanan Irak setelah pasukan koalisi pimpinan AS meninggalkan negara tersebut. Pasukan khusus Kurdi masih melakukan patroli di pinggiran Erbil pada 22 September 2026, di tengah kekhawatiran mengenai situasi keamanan.

Kepergian militer AS juga dipandang dapat memengaruhi peta kekuatan politik dan keamanan Irak. Iran dan kelompok-kelompok yang menjadi sekutunya disebut memiliki pengaruh kuat di negara tersebut, sehingga berakhirnya kehadiran AS menjadi momentum penting bagi keseimbangan kekuatan di Irak.

Analis keamanan Irak, Jasim al-Bahadli, mengatakan penarikan pasukan koalisi dapat memberikan keuntungan strategis bagi Iran. Menurut dia, kehadiran militer AS selama bertahun-tahun berperan sebagai penyeimbang terhadap pengaruh Teheran di Irak.

Dengan keberangkatan dari pangkalan terakhir pada 30 September, babak kehadiran militer AS yang dimulai setelah invasi 2003 akan berakhir. Perkembangan keamanan Irak setelah penarikan tersebut menjadi perhatian utama, terutama terkait perubahan pengaruh antara berbagai kekuatan yang selama ini berperan di negara itu.

Source link